Poptren.suara.com - Namanya Desa Ciburayut, terletak di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Desa itu juga tenar disebut sebagai Kampung Janda.
Para janda di sana banyak yang berkerja untuk menafkahi anak-anak mereka sebagai perajin besek. Dengan kehidupan yang jauh dari kata layak, kebanyakan anak-anak mereka umumnya hanya lulus Sekolah Dasar (SD), dan tak sedikit anak-anak itu membantu ibunya bekerja.
Mengapa begitu banyak janda?
Lantas, mengapa begitu banyak janda di desa tersebut, apakah tak ada laki-laki lain yang mau mengawini mereka, atau enggan menopang mereka secara ekonomi.
Beberapa fakta kemudian coba dikupas, seperti beberapa penjelasan beriku ini:
Hampir separuh penghuni kampung adalah janda
Sekiranya warga kampung tersebut kurang dari 100 kepala keluarga yang setengah di antaranya berstatus janda. Sebagiannya adalah janda-janda muda berusia belia.
Rata-rata menjanda karena ditinggal mati suaminya
Sebagai kawasan pedesaan yang berada di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango, menjadikan para lelaki lelaki di sana bekerja menjadi penambang pasir, baik dari menggali dan menyaring pasir, hingga pemecah batu, untuk menghidupi keluarganya.
Baca Juga: Jelajah Kampung Sodan, Melihat dari Dekat Tempat Peristirahatan Terakhir Raja-Raja Sumba
Namun seringnya terjadi longsor di lokasi penambangan, membuat para pekerja itu kebanyakan meninggal dunia dan meninggalkan istri dan anak-anaknya.
Janda muda yang berterbaran
Sebagian janda-janda di kampung itu ternyata masih berusia belia, atau janda muda. Mereka menikah muda sekira 16 tahun yang tentunya secara mental belum siap berumah tangga. Bahkan di usia 17 tahun ada yang sudah kawin 2 kali karena ditinggal mati suami.
Selain karena ditinggal suami meninggal di penambangan pasir, janda-janda muda ini juga menyandang status sebagai janda cerai.
Kurangnya perhatian pemerintah
Kampung janda di Bogor ini menyimpan banyak permasalahan yang tentunya perlu diperhatikan dan diperbaiki oleh pemerintah daerah, mulai dari perekonomian, lapangan pekerjaan, hingga pendidikan. Hal itu sesuai dengan Pasal 78 RUU Ketahanan Keluarga.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim