Poptren.suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dilaporkan sedang memantau sub-varian Covid-19 baru bernama Arcturus. Varian ini terdeteksi kali pertama di beberapa negara pada akhir Januari 2023 lalu.
Saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi bahwa varian baru Covid-19 Arcturus atau juga dikenal dengan subvarian Omicron XBB 1.16 sudah masuk ke Indonesia.
"Ada dua kasus," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi.
Berbeda dengan sub-varian sebelumnya, Arcturus memiliki satu mutasi tambahan yang menurut penelitian laboratorium, membuatnya lebih menular dan berpotensi mengandung patogen yang cukup besar.
Bahkan Pimpinan Teknis WHO untuk Covid-19, Maria Van Kerkhove, dalam The Independent (14/4/2023), mengatakan bahwa Arcturus sudah beredar selama beberapa bulan tanpa disadari oleh kalangan peneliti.
"Kami belum melihat perubahan tingkat keparahan pada individu atau populasi, tetapi itulah mengapa kami menerapkan sistem ini," katanya.
Sebagian besar sampel Arcturus berasal dari India. Negara tersebut menjadi dominan atas kasus Covid-19 Arcturus dengan jumlah kasus cukup banyak dalam seminggu terakhir. Namun WHO menyebut angkanya masih jauh di bawah tingkat puncak.
Gejala mata lengket
Gejala Arcturus juga dilaporkan sama dengan varian sebelumnya, yaitu demam, sesak napas, dan batuk. Namun, banyak dari mereka yang terinfeksi juga melaporkan mengalami gejala mata lengket.
Ahli epidemiologi penyakit menular di lembaga penelitian nirlaba RTI International, Richard Reithinger, menjelaskan konjungtivitis atau infeksi mata sebelumnya juga sudah dilaporkan sebagai salah satu gejala Covid-19. Tapi gejala tersebut sangat jarang.
Baca Juga: 2 Maret 2020, Covid-19 Pertama Kali Terdeteksi di Indonesia
Varian Arcturus Arcturus adalah rekombinan dari dua sub-varian BA.2, dan studi pracetak dari para ilmuwan di Universitas Tokyo menunjukkan bahwa ia menyebar sekitar 1,17 hingga 1,27 kali lebih efisien daripada kerabatnya XBB.1 dan XBB. 1.5.
Selain itu, tampaknya resisten terhadap antibodi dari varian Covid lainnya, yang menimbulkan kekhawatiran tentang potensinya untuk menghindari kekebalan yang didapat dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
FIFA Ubah Aturan Fotografer Piala Dunia 2026 karena Thomas Tuchel Protes
-
Mahasiswi Unair Nekat Tilap Dana KIP-K Rp103 Juta: Jeratan Pinjol di Balik Jabatan Mentereng
-
Roy Suryo dan dr Tifa Ditangkap Polda Metro Jaya, Tim Hukum: Ini Tindakan Represif, Sarat Politik!
-
Pancarkan Energi Positif, 5 Zodiak yang Terkenal Selalu Ceria
-
Maling Motor di Acara Kuda Lumping Keok: Buron 2 Bulan, Cuma Dapat 600 Ribu
-
Jelang Amerika vs Australia Piala Dunia 2026, Christian Pulisic Masih Berjuang Sembuh dari Cedera
-
Pesona Veteran di Piala Dunia 2026: Pembuktian Kualitas Melampaui Usia
-
Jateng Bergerak Tekan 'Fatherless', Ayah Diminta Antar Anak dan Ambil Rapor
-
Murat Yakin Puji Peran Pemain Pengganti usai Swiss Hajar Bosnia 4-1
-
Marc Cucurella ke Real Madrid: Dulu Tak Mau Tinggalkan Chelsea, Sekarang Berubah