- Sultan Hamengku Buwono IX menamai Jadah Tempe Mbah Carik sebagai doa rezeki bagi keturunan Sastro Dinomo sejak era 1930-an.
- Usaha kuliner asal Kaliurang ini terus diwariskan kepada empat generasi keluarga Sastro Dinomo hingga masa kini.
- Generasi keempat menginovasi produk menjadi kemasan beku berstandar BPOM dengan dukungan modal KUR untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Suara.com - “Ini dinamakan Jadah Tempe Mbah Carik, biar jadi rezeki anak cucumu,” begitulah titah Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada Mbah Carik yang kini terbukti menjadi sumber penghidupan keluarga hingga generasi keempat.
Jadah Tempe yang kini identik sebagai oleh-oleh khas Jogja, awalnya merupakan sajian yang hadir dalam lingkungan keraton. Popularitasnya tak lepas dari ketertarikan Sultan HB IX pada makanan tersebut sejak era 1930-an.
Kala itu, Sultan mencicipi jadah tempe dalam sebuah kegiatan di Kaliurang, Sleman, yang dikenal dengan nama Ngeksiganda. Dari situlah, makanan sederhana tersebut menjadi favorit sang raja.
Sosok di balik sajian itu adalah Sastro Dinomo, seorang Carik Desa Kaliurang yang kemudian dikenal sebagai Mbah Carik.
"Jadi, simbah itu sudah jualan dari 1930, simbah nomor satu itu namanya Sastro Dinomo sebagai carik," ujar penerus Jadah Tempe Mbah Carik, Angga Kusuma Arybowo.
"Suatu ketika ada kunjungan dari Sri Sultan IX sedang bikin kegiatan di Kaliurung, namanya Ngeksiganda. Beliau itu disuguhkan Mbah Carik ini jadah tempe," imbuhnya.
"Akhirnya beliau suka, ketika ke Jogja, dia mengutus istrinya ke Kaliurang untuk beli jadah tempe," tuturnya.
Dalam pertemuan berikutnya, Sultan HB IX memberikan nama khusus pada makanan tersebut, yakni Jadah Tempe Mbah Carik. Nama itu bukan sekadar identitas, tetapi juga doa agar usaha tersebut membawa rezeki bagi keturunannya.
"Ketika Sultan mengatakan bahwa, ini dinamakan Jadah Tempe Mbah Carik supaya jadi rezeki anak cucumu. Sampai sekarang generasi keempat," ungkap Angga.
Baca Juga: Wujudkan Rumah Impian Bersama BRI dengan Suku Bunga KPR Eksklusif Mulai 2,50 Persen
"Yang dikasih nama Mbah Carik itu generasi kedua, generasi sebelumnya belum ada namanya, kedua itu Mbah Carik hingga menurun ke generasi keempat," lanjutnya.
Zaman Berkembang, Jadah Tempe pun Berinovasi
Seiring perkembangan zaman, Jadah Tempe Mbah Carik juga terus beradaptasi. Di tangan generasi keempat, produk ini mengalami inovasi, terutama dalam hal kemasan.
Kini, jadah tempe tersedia dalam bentuk frozen (beku) agar lebih tahan lama dan mudah dibawa sebagai oleh-oleh. Jika sebelumnya hanya bertahan sekitar satu hari, kini produk tersebut bisa bertahan hingga tiga hari di suhu ruang dan mencapai delapan bulan dalam kondisi beku.
Untuk mendukung inovasi ini, pengelola membangun pabrik dengan standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui dukungan pembiayaan sebesar Rp100 juta dari Bank BRI lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"Kami ini yang muda, kami kemas dengan yang bagus. Kami adaptasi online juga. Kami pun ada frozennya, bisa tahan tiga hari suhu ruang, beku hingga delapan bulan. Jadi, bisa buat oleh-oleh, luar kota juga bisa. Karena dulu kan cuma 24 jam," ujar Angga.
Berita Terkait
-
Wujudkan Rumah Impian Bersama BRI dengan Suku Bunga KPR Eksklusif Mulai 2,50 Persen
-
BRI Consumer Expo 2026 Surabaya: Promo Rumah dengan Bunga 1,75%, Liburan Impian Cashback Rp8 Juta
-
BRI Hadirkan "ROOM ART FAIR" dengan Fasilitas Cicilan 0% di 25hours Hotel
-
Take Over Rumah Lebih Praktis dan Mudah dengan KPR BRI
-
Nikmati Kuliner Mewah Lebih Hemat dengan Promo Spesial BRI di Seribu Rasa
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan