Suara.com - Bertepatan dengan Hari Kota Sedunia (World Cities Day) yang jatuh pada tanggal 31 Oktober 2015 lalu, Indeks Kesejahteraan Kota-kota di Asia Pasifik (Asia Pacific Cities Well-Being Index) yang pertama kali dikeluarkan oleh MasterCard mengungkapkan bahwa masyarakat yang tinggal di kota-kota negara berkembang (65,8) lebih memiliki sikap positif terhadap kesejahteraan dibandingkan mereka yang berada di kota-kota negara maju (56,8). Patut diperhatikan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan pada tingkat tekanan (stress) yang dimiliki antara mereka yang tinggal di negara maju dan negara berkembang.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Prospek Urbanisasi Dunia (World Urbanization Prospects), 2/3 dari populasi dunia akan tinggal di perkotaan pada tahun 2050. Saat ini, banyak kota di Asia Pasifik yang bergulat dengan tantangan akibat dari pertumbuhan tersebut. Dengan mengungkapkan persepsi mengenai kesejahteraan di kota-kota Asia Pasifik, Indeks tersebut di atas dapat membantu pemerintah maupun pelaku bisnis dalam mengidentifikasi serta menjawab beberapa permasalahan utama penduduk yang tinggal di perkotaan.
Hampir 9.000 orang di 33 kota di 17 negara di Asia Pasifik telah disurvei untuk Indeks tersebut yang mengukur tingkat kesejahteraan secara keseluruhan dengan menilai sikap masyarakat terhadap empat komponen: Pekerjaan dan Keuangan (Work and Finances), Keamanan dari Ancaman (Safety from Threats), Kepuasan (Satisfaction), dan Kesejahteraan Pribadi (Personal Well-Being). Indeks dihitung dimana nol sebagai yang paling negatif, 100 sebagai yang paling positif dan 50 sebagai netral.
Bangalore (73,2) merupakan kota dengan sikap yang paling positif, diikuti oleh Jakarta (72,1) dan Delhi (71,7). Sedangkan kota dengan sikap yang paling tidak positif adalah Dhaka (48,7) diikuti oleh Tokyo (52,1), dan Busan (52,5).
Perbedaan yang paling signifikan pada tingkat sikap positif terlihat pada saat mendiskusikan hal mengenai “Kesejahteraan Pribadi” (65,4 di kota-kota negara berkembang vs. 51,6 di negara maju), yang meliputi keluarga, tekanan pekerjaan dan keuangan, serta kesehatan. Secara keseluruhan, masyarakat di kota-kota negara maju merasakan lebih banyak tekanan, dan kurang optimis saat berbicara mengenai kesehatan secara umum dibandingkan dengan mereka yang berada di kota-kota negara berkembang.
Selain itu, masyarakat di negara maju juga merasa lebih tertekan terhadap “Pekerjaan dan Keuangan” mereka (59,4 di kota-kota negara maju vs. 71,0 di negara berkembang). Mereka juga kurang optimis terhadap prospek pendapatan rutin mereka di masa depan (59,1 vs. 88,0) serta pekerjaan (40,7 vs. 84,6) dibandingkan dengan mereka yang berada di kota-kota negara berkembang. Meskipun demikian, mereka memiliki kontrol yang lebih baik dalam menjaga jumlah tagihan mereka (75,8 vs. 59,3) dan menabung untuk pengeluaran yang besar (62,1 vs. 52,2).
Kota-kota negara maju di Australia (Adelaide: 21,7; Perth: 22,0; Brisbane: 24,5; Melbourne: 28,0; Sydney: 36,3), Korea Selatan (Busan 37,0) dan Taiwan (Taipei: 38,7) merupakan kota-kota yang paling pesimis terhadap prospek pekerjaan mereka.
Sementara itu, masalah yang menjadi perhatian bersama di kota-kota negara maju maupun negara berkembang berfokus sekitar “Keamanan dari Ancaman” (57,7 pada kota-kota di negara berkembang; 56,5 di negara maju). Kejahatan Keuangan (54,7 di kota-kota negara berkembang; 56,6 di negara maju) serta kejahatan dunia maya (55,8 di kota-kota negara berkembang; 50,9 di negara maju) menjadi sebab untuk suatu perhatian tertentu.
Georgette Tan, Group Head, Communications, Asia Pasifik, MasterCard dalam siaran pers, Senin (23/11/2015) mengatakan asumsi yang sering muncul di masyarakat ialah bahwa perkembangan ekonomi mengarah kepada berkurangnya tekanan keuangan, keluarga, dan pekerjaan. "Meskipun demikian, sudah jelas dipaparkan dalam Indeks Kesejahteraan Kota-kota di Asia Pasifik (Asia Pacific Cities Well-Being Index) yang pertama dari MasterCard tersebut bahwa masyarakat di negara maju lebih merasa sangat berada di bawah tekanan, baik di tempat kerja maupun dirumah. Seiring dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi di negara maju, besar kemungkinan hal tersebut berdampak pada tingkat optimistime terhadap prospek pekerjaan. Apabila Anda tidak merasa senang dengan tempat bekerja Anda saat ini dan di luar sana hanya sedikit pilihan pekerjaan yang tersedia, kemungkinan Anda akan merasa lebih tertekan. Tekanan pekerjaan dan keuangan tersebut merupakan pemicu dari tekanan keluarga, sehingga angka-angka tersebut akan terlihat saling berhubungan. Namun, harus dicatat bahwa masyarakat secara keseluruhan, baik di kota-kota negara berkembang maupun negara maju tetap positif terhadap kesejahteraan mereka saat ini. Kesempatan dan kualitas hidup harus terus meningkat di seluruh kota di Asia Pasifik jika mereka ingin terus tumbuh dan berkembang.”
Metodologi
Responden diberikan 17 pertanyaan seputar empat komponen: Pekerjaan dan Keuangan (Work and Finances), Keamanan dari Ancaman (Safety from Threats), Kepuasan (Satisfaction), dan Kesejahteraan Pribadi (Personal Well-Being). Hasil dari tanggapan mereka kemudian dikonversi menjadi empat kategori sub-indeks, yang kemudian telah dirata-rata menjadi bentuk skor Indeks Kesejahteraan Kota-kota di Asia Pasifik (Asia Pacific Cities Well-Being Index). Skor indeks dan empat komponen skor indeks dari 0-100, dimana 0 merepresentasikan respon negatif maksimum, 100 merepresentasikan respon positif maksimum, dan 50 merepresentasikan netralitas.
Berita Terkait
-
IHSG Merah Jelang Pidato Prabowo, Bergerak di Level 6.200
-
IHSG Masih Kebakaran di Level 6.200 pada Sesi I, Saham Prajogo Tumbang
-
BEI Buka Suara Usai MSCI Rombak Indeks, 10 Saham RI Turun Kasta
-
Meski Lolos dari Frontier Market, IHSG Tetap Merah Pagi ini di level 6.300
-
IHSG Mulai Rebound ke Level 6.300 Hari Ini, Saham Prajogo Terbang
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?