Suara.com - Asosiasi Penulis dan Inspirator Indonesia (ASPIRASI), membedah buku karangan Rhenald Kasali yang berjudul "Disruption" dan buku karangan Dedi Mahardi berjudul "Revolusi Mental."
"Disruption" yang ditulis Rheinald Kasali memiliki sub judul "Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan Dalam Peradaban Uber."
“Orang sekarang bisa menulis di medianya sendiri (sosial media). Sekarang muncul taksi yang tidak memiliki plat kuning, dan penumpangnya turun tidak kelihatan membayar. Aplikasi, memungkinkan orang mau kemana saja di dunia ini jadi murah. Bahkan gratis dijemput, dan diantarkan. Media massa juga berubah. Iklan sekarang ini pindah ke youtube dan google. Dunia sedang kacau bagi pemain lama,” kata lelaki berusia 56 tahun itu dalam acara diskusi yang digelar di Rumah Perubahan Jatimurni Bekasi Jawa Barat, Minggu (23/4/2017),
Melalui buku terbarunya, Rhenald berupaya menyuguhkan sebuah cara pandang kepada para pembaca, tak terkecuali pemegang kebijakan, untuk memahami perubahan yang tengah terjadi.
Buku itu ditulis Rhenald sejak awal tahun 2016 dan selesai pada akhir tahun yang sama. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama itu terdiri dari 16 bab yang dibagi dalam 5 bagian setebal 497 halaman.
Untuk menghadapi perubahan ini, Rhenald meminta para pemain lama untuk memiliki mesin baru. Mesin baru itu adalah orang muda yang penuh akan inovasi dan memiliki cara pandang jauh kedepan.
“Di dunia ini orang muda itu miskin masa lalu, tapi kaya masa depan. Internet of think. Lawan kita saat ini adalah orang yang menggunakan masa depan, untuk melawan kita di masa sekarang,” kata Guru Besar Universitas Indonesia ini.
Sementara itu, motivator, innovator dan author nasional, Dedi Mahardi mengatakan bahwa buku Revolusi Mental mengkritisi jargon Presiden Jokowi yang belum berdampak signifikan bagi masyarakat Indonesia.
Katanya, hal itu ditandai dengan semakin maraknya korupsi dan penyakit masyarakat lainnya semakin parah.
"Kalau dilihat dari kondisi bangsa, belum berdampak yang besar. Apalagi dibandingkan dengan bangsa yang juga menganut revolusi mental seperti Kuba dan China," jelas Dedi.
Menurut Dedi, negara yang sudah berhasil revolusi mentalnya adalah munculnya pemimpin yang dapat jadi teladan serta sistem yang mengikat semua elemen bangsa sehingga mereka bisa berubah. Tetapi di negara ini, lanjut Dedi, sistem dibuat untuk kepentingan kelompok dan kepentingan jangka pendek.
Menurut Dedi, ada beberapa cara untuk mempercepat mental rakyat Indonesia berrevolusi. Namun, harus dibarengi dengan sikap konsisten dari pemimpin negara.
"Pertama, mulailah berubah dari diri sendiri. Kedua, merekrut agen-agen perubahan untuk disusupkan di semua lapisan masyarakat. Ketiga, menjadikan integritas dan etika moral sebagai syarat utama seseorang diangkat jadi pemimpin semua level kepemimpinan," jelas dia.
"Keempat, mendidik pemimpin agama dan guru yang pantas diteladani oleh semua umat. Kelima, membuat efek malu kepada koruptor dan orang-orang bermoral bejat dengan menyiarkan setiap periode tertentu dan mendaftarkan di laboratorium revolusi mental," tambah Dedi.
Selain dihadiri oleh anggota ASPIRASI, bedah buku ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional. Diantaranya mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko.
“Saya banyak menjadikan buku Rhenald Kasali sebagai sumber referensi untuk memberikan ceramah di berbagai perguruan tinggi,” ujar Moeldoko.
Berita Terkait
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Diwarnai Aksi Boikot Jakmania, Persija Kenalkan 29 Pemain dan Jersey Baru Merah Menyala
-
Rilis Skuad dan Jersey Musim 2026/2027, Bhayangkara Presisi Lampung FC Bidik Tiga Besar Super League
-
Ini 5 HP Bekas Murah 2-4 Jutaan dengan Skor AnTuTu 11 Tembus Sejuta, Main Game Berat Lancar!
-
SE Menkomdigi soal Perlindungan Kuota Internet Sudah Tepat, Tak Perlu Tergesa Revisi Aturan
-
RUU Perampasan Aset Segera Disahkan, Akademisi: Kewenangan Besar Tanpa Pengawasan Bisa Jadi Bumerang
-
5 Rekomendasi Bedak Touch-Up Praktis dengan Kaca dan Spons untuk Aktivitas Seharian
-
4 Shio Paling Beruntung 30 Agustus 2026: Siap-Siap Panen Rezeki di Akhir Bulan
-
Tragedi Drag Race Jadi Alarm, IMI Sebut Tak Semua Daerah Punya Venue Layak
-
Siswa di Kampar Diduga Dianiaya Senior, Sempat Dilarikan ke RS karena Hidung Patah
-
Tujuh Perusahaan Antre IPO di BEI, Dua Punya Aset Jumbo