Suara.com - Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina, membuat tingkat optimisme para pelaku bisnis global terhadap prospek ekonomi menurun. Tidak bagi pelaku bisnis di Indonesia yang justru tinggi dan tercatat dengan tingkat optimisme tertinggi di dunia, level 98 persen.
Hal ini terungkap dari hasi survei Grant Thornton International Business Report (IBR) per kuartal II 2018. Data untuk rilis ini diperoleh melalui wawancara dengan lebih dari 2.500 pejabat di jenjang eksekutif, managing director, chairman atau eksekutif senior lain dari semua sektor industri yang dilakukan pada Mei-Juni 2018.
“Beberapa pihak berpendapat, perekonomian global 2018 mungkin sama baiknya dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun pola optimisme bisnis jelas berubah, setelah tren kenaikan dua tahun terakhir. Saat ini kita bersiap memasuki fase berikutnya dari siklus ekonomi global, pelaku bisnis dan pembuat kebijakan harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk berbagai skenario,” ungkap Francesca Lagerberg, Global Leader Network Development Grant Thornton, dalam keterangan pers.
Berdasarkan hasil IBR tersebut, terlihat optimisme pelaku bisnis di Indonesia bertahan di angka 98 persen, yang menjadikannya sebagai tingkat optimisme bisnis tertinggi di dunia. Optimisme pelaku bisnis di Indonesia juga jauh di atas rata-rata ASEAN, yang berada di angka 64 persen dan Asia Pasifik di angka 55 persen.
“Kenaikan optimisme bisnis di kuartal kedua cukup dipengaruhi banyaknya festive season, seperti bulan Ramadan dan Lebaran yang mempengaruhi tingginya konsumsi masyarakat dan berpengaruh positif terhadap perputaran bisnis berbagai sektor industri,” ujar Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia.
Untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk membangun industri manufaktur berdaya saing global melalui percepatan implementasi revolusi industri ke-4 atau Industri 4.0 yang diluncurkan di awal kuartal II tahun ini. Implementasi Industri 4.0 akan ditopang lima teknologi utama, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, teknologi robotic dan sensor, serta teknologi 3D Printing.
“Pelaku bisnis di Indonesia dapat memanfaatkan komitmen pemerintah tersebut untuk menentukan strategi investasi jangka panjang demi menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan. Dan tentu tetap waspada terhadap dampak perang dagang untuk pasar dalam dan luar negeri,” kata Johanna.
Dari hasil survei Grant Thornton IBR terungkap, perbedaan mencolok yang ditunjukkan kedua negara yang berseteru. Optimisme pelaku bisnis Amerika Serikat turun 11 persen menjadi 78 persen di kuartal II. Sebaliknya, Cina justru mencatat kenaikan 14 persen ke level 79 persen.
Ini kali pertama pelaku bisnis Cina meraih optimisme bisnis lebih tinggi dibanding Amerika Serikat sejak akhir 2012. Menilik angka optimisme pada kuartal II 2018, terlihat perbedaan respons pelaku bisnis di kedua negara terhadap perang dagang ini.
Seperti diketahui, pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menaikkan tarif bea masuk 1.300 produk teknologi industri, transportasi, dan medis dari Cina. Kebijakan ini langsung direspons pemerintah Cina dengan menerapkan tambahan tarif bea masuk untuk 106 produk impor dari Amerika, terutama produk pertanian, mobil, hingga pesawat terbang.
Baca Juga: Pagi Ini Wapres JK Buka Pameran Bisnis Indonesia - Afrika di Bali
Prediksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tahun ini yang berada di kisaran 2-3 persen, diyakini para ekonom justru merasakan imbas yang lebih buruk akan adanya perang dagang dibandingkan pelaku bisnis di Cina dengan pertumbuhan ekonomi 6-7 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
IM3 Tak Lagi Jual Koneksi Saja, Airena Kreatif Bawa AI dan Adobe ke Bisnis Kreator hingga UMKM
-
Dor! Akhir Pelarian Begal Sadis Lampung Utara yang Tembak Perut Pelajar
-
18 Kode Redeem FC Mobile Aktif 29 Agustus 2026, Kesempatan Dapat Pemain OVR 118 dan Koin Gratis
-
Nenek Suhaena Ditemukan Hangus Terbakar di Ladang Sunyi Sumenep
-
7 Cara Membersihkan Inner Pot Keramik Rice Cooker agar Awet, Jangan Asal Cuci
-
Sabtu Pagi Berselimut Polusi, Jakarta Kembali Masuk Daftar Kota dengan Udara Terburuk Dunia
-
Saatnya Ganti Provider agar Dunia dalam Genggaman
-
20 Kode Redeem FF Terbaru 29 Agustus 2026: Klaim Skin Langka dan Diamond Gratis
-
Pasca-Penggerudukan, Pihak Yayasan SDI Pembangunan Pamulang Laporkan Rektor UIN Jakarta ke Polisi
-
Feng Shui Meja Kerja Membelakangi Pintu, Apakah Bikin Rezeki Seret? Cek Faktanya di Sini