Press Release / pressrelease
Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
KKN Mahasiswa UBSI Sastra Inggris di SDN Jatimakmur 3. (Dok: UBSI)

Suara.com - Pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Kekhawatiran warga masih membayang meski angka tertular lumayan berkurang. Namun, aktivitas manusia tak boleh meredup lalu padam. Kegiatan belajar mengajar harus tetap berlangsung.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mengamini ini. Buatnya, pandemi tak boleh menjadi penghalang siswa/siswi untuk belajar. Karenanya, dia pun mendorong penerapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas di sejumlah sekolah.

Kendati demikian, Nadiem menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan (Prokes) bagi sekolah yang menggelar PTM. Prokes menjadi hal mutlak yang harus dipahami dan diterapkan oleh murid, guru, staf, maupun petugas keamanan di sekolah.  Seluruh elemen masyarakat diharapkan turut serta mengkampanyekan prokes guna memutus rantai penyebaran Covid-19. Sebagai akademisi, mahasiswa/mahasiswi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Prodi Sastra Inggris tergugah untuk ikut andil.

Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN), 13 mahasiswa UBSI yakni, Ajeng Pangestu, Aisyah Wirawati, Restu Fadilah, Vira Anissa Kesuma, Stanley Novaldo, Windi Mawadah, Heydi Ruth, Nur Sayyidah, Nurul Vitria Hastutik, Rio Rudiansyah, Akbar Mardiah, Ade Rizki Husein dan Galang Aji Prakoso, melaksanakan Program Edukasi Pencegahan Covid-19 Pada SD Negeri Jatimakmur 3, di Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Baca Juga: Viral Mahasiswa KKN Asyik Dugem di Atas Mobil Ambulans, Publik Geram

Kelompok yang diketuai oleh Ajeng Pangestu ini, memberikan edukasi yang berkaitan dengan Pandemi Covid-19, seperti mengajarkan siswa/siswi untuk membuat "Masker Darurat". Masker darurat adalah masker yang dibuat tanpa harus dijahit. Edukasi tentang pembuatan Masker Darurat ini dikemas secara interaktif dan menyenangkan.

Siswa/siswi SDN Jatimakmur 3 saat belajar membuat masker darurat. (Dok: UBSI)

Di mana, pemateri awalnya mencontohkan kepada siswa/siswi bagaimana membuat masker darurat. Selanjutnya masing-masing murid diberikan kain, tisu dan kunciran untuk mempraktikannya kembali. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang diajak untuk mempraktikannya di depan kelas. Mereka yang bersedia berhak mendapatkan hadiah.

Menurut Ajeng, selain bermanfaat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, Masker Darurat juga bermanfaat untuk hal lain. Setidaknya ada dua manfaat dari pembuatan masker darurat. Pertama, dapat mengajarkan anak-anak untuk lebih kreatif dalam menciptakan hal bermanfaat tanpa harus mengeluarkan uang. Mengingat bahan yang digunakan sangat sederhana, yakni kain sepanjang 25cmx25cm, ikatan rambut 2 pcs, dan 2 lembar tisu.

"Bahan yang digunakan ini bisa pakai bahan-bahan yang ada di rumah, misalnya mukena yang sudah enggak kepakai, atau bahan katun lainnya asalkan bersih. Lalu tinggal dipotong sesuai ukuran," tutur Ajeng.

Kedua dapat mengurangi sampah masker sekali pakai. Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers of Environmental Science and Engineering, jika sebulan terdapat 31 hari, maka penggunaan masker sekali pakai sekitar 2,8 juta masker per menit.

Baca Juga: Tim KKN-PPM UGM Melakukan Pembaruan Website Desa Waibao, NTT

Dalam penelitan tersebut dijelaskan bahwa volume limbah masker dapat berimplikasi terhadap kerusakan lingkungan. Sebab, jika tidak dibuang untuk didaur ulang, masker sekali pakai dapat menumpuk dan melepaskan zat kimia dan biologi berbahaya, seperti bisphenol A, logam berat, serta mikro-organisme patogen. Kandungan tersebut akan menimbulkan dampak negatif bagi tumbuhan, hewan, bahkan manusia.

Komentar