- OJK dan BEI mengajukan sejumlah proposal terkait keinginan MSCI.
- Salah satunya soal siapa sebenarnya penerima manfaat akhir dari sebuah kepemilikan saham RI.
- Jika sebelumnya ambang batas pengungkapan berada di angka yang lebih tinggi, kini otoritas siap melakukan pengungkapan kepemilikan saham dengan porsi di bawah 5% hingga 1%.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi telah merampungkan pertemuan virtual strategis dengan penyedia indeks global ternama, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pertemuan ini menjadi krusial di tengah upaya regulator untuk memperkuat posisi pasar modal Indonesia di mata investor internasional dan memastikan emiten-emiten tanah air tetap kompetitif dalam penghitungan indeks MSCI.
Dalam pertemuan tersebut, OJK dan BEI mengajukan proposal solusi komprehensif sebagai jawaban atas tuntutan transparansi yang selama ini menjadi perhatian utama MSCI.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK) OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa komitmen ini merupakan langkah proaktif otoritas untuk menghapus hambatan informasi bagi investor global.
Proposal yang diajukan mencakup dua poin fundamental yang selama ini dianggap sebagai "titik buta" oleh investor institusi internasional.
- Pengungkapan Ultimate Beneficial Ownership (UBO): OJK berkomitmen untuk memperketat transparansi mengenai siapa sebenarnya penerima manfaat akhir dari sebuah kepemilikan saham. Selama ini, struktur kepemilikan yang berlapis sering kali menyulitkan analisis risiko. Dengan transparansi UBO, pasar akan memiliki gambaran yang lebih jernih mengenai pengendali sesungguhnya dari sebuah emiten.
- Peningkatan Likuiditas dan Free Float: Poin kedua berkaitan erat dengan kemudahan transaksi bagi investor besar. MSCI sangat memperhatikan ketersediaan saham di publik (free float) yang benar-benar likuid untuk diperdagangkan.
"OJK bersama Bursa dan KSEI telah mengajukan proposal solusi yang pada prinsipnya menjawab keseluruhan concern dan isu terkait dua hal utama tadi. Kami sudah memiliki rencana matang untuk melakukan pemenuhan atas semua isu tersebut," ungkap Hasan Fawzi dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Salah satu terobosan paling signifikan dalam proposal ini adalah rencana OJK dan BEI untuk membedah data kepemilikan saham jauh lebih dalam. Jika sebelumnya ambang batas pengungkapan berada di angka yang lebih tinggi, kini otoritas siap melakukan pengungkapan kepemilikan saham dengan porsi di bawah 5% hingga 1%.
Tak hanya itu, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan merinci klasifikasi investor menjadi 27 sub-tipe investor. Langkah ini dirancang untuk mengungkap profil risiko dan penerima manfaat akhir secara mendetail. Dengan data yang lebih granular, MSCI dan investor global dapat membedakan mana kepemilikan yang bersifat strategis dan mana yang bersifat murni investasi publik.
Terkait likuiditas, OJK mengambil langkah berani dengan mengusulkan kenaikan batas minimal free float saham dari semula 7,5% menjadi 15% secara bertahap. Peningkatan dua kali lipat ini diharapkan mampu menggairahkan volume transaksi harian dan mencegah terjadinya volatilitas ekstrem akibat jumlah saham beredar yang terlalu sedikit.
Baca Juga: MSCI Buka Suara Usai Diskusi dengan BEI, OJK dan KSEI Perihal IHSG
Hasan Fawzi menambahkan bahwa diskusi dengan MSCI berlangsung sangat konstruktif. Pihak MSCI bahkan memberikan panduan mengenai metodologi penghitungan saham yang lebih akurat sesuai standar global. Sebagai bentuk akuntabilitas, otoritas pasar modal sepakat untuk memberikan pembaruan rutin (regular update) kepada publik mengenai progres dari komitmen-komitmen ini.
"Mudah-mudahan ini menjadi progres yang baik. Melalui evaluasi akhir, kita berharap akan mendapatkan konfirmasi penerimaan (dari MSCI) atas solusi yang kami tawarkan," pungkas Hasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
Terkini
-
Tantrum Harga Minyak Meroket, Trump Cap NATO Pengecut Karena Tak Mau Ikut Buka Selat Hormuz
-
Pertamina Kawal Pemudik Lalui Jalur Non-Tol Pantura
-
Raksasa Migas Italia Finalisasi Proyek Gas Strategis di Kaltim
-
Pastikan Stok BBM Aman Selama Mudik, Wakil Menteri ESDM Kunjungi Rest Area 379 A Batang-Semarang
-
Cerita Ibu Eka Setelah Dua Tahun Menahan Rindu Kini Bisa Mudik Nyaman Bareng PNM
-
Menteri LH: PT Agincourt Resources Boleh Kelola Tambang Emas Martabe Lagi
-
Purbaya: Harga BBM Subsidi Tak Akan Naik Harga
-
Layanan BRI Lebaran 2026: Cukup Scan QRIS, Bisa Kirim THR dalam Hitungan Detik via BRImo
-
BRI Siap Sedia Layani Nasabah Lebaran 2026: 627 Ribu E-Channel Aktif Layani Nasabah 24 Jam
-
[HOAKS] Presiden Prabowo Resmikan KUR BRI Tanpa Agunan