Suara.com - The Climate Reality Project Indonesia meluncurkan buku terbarunya, Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi. Memoirs by Climate Reality Leaders di sela-sela COP27 - Konferensi Perubahan Iklim PBB di Sharm El-Sheikh Mesir.
Peluncuran buku tersebut berlangsung di Paviliun Indonesia COP27 pada sesi “Narrating Endeavors to Tend the Earth” yang membahas peran dan cara komunikasi aksi iklim oleh organisasi, korporasi, dan individu.
Acara yang dipandu oleh Dr. Amanda Katili Niode, Direktur Climate Reality Indonesia, menghadirkan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Silverius Oscar Unggul; President & CEO The Climate Reality Project, Phyllic Cuttino; serta Nazrin Castro dan Lia Zakiyyah masing-masing dari Climate Reality Filipina dan Indonesia.
Sebanyak 92 pegiat iklim dari Indonesia dan 14 negara lainnya, yang telah mengikuti pelatihan perubahan iklim bersama Al Gore dan team ilmuwan serta aktivis, menuliskan memoar masing-masing.
Kumpulan memoar ditulis dalam beberapa bahasa dan merupakan pengalaman pribadi, baik yang terkait dengan ilmu pengetahuan, dampak, solusi, maupun aksi perubahan iklim.
Buku tersebut secara resmi diluncurkan oleh Dr. Alue Dohong, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang juga menuliskan pengalamannya merestorasi ekosistem gambut terdegradasi di Kalimantan dan berharap agar buku serupa setidaknya diterbitkan setiap 6 bulan sekali.
Memoar sebagai genre sastra kini menjadi sorotan menarik karena Annie Ernaux, novelis dan memoaris Prancis, memenangkan Hadiah Nobel Sastra 2022. Ia banyak menulis hal pribadi, politik, dan universal dan penghargaan itu diperoleh "untuk keberanian dan ketajaman klinis yang ia gunakan untuk mengungkap akar, keterasingan, dan pengekangan kolektif dari memori pribadi."
Amanda Katili Niode yang bersama Delima Astrawinata, dan Ngadiyo menjadi editor mengatakan: “Buku ini adalah bentuk komunikasi dari hati 92 penulis yang dapat menyentuh hati dan menginsipirasi pembacanya untuk melindungi Bumi dari krisis iklim.
Buku Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi setebal 532 halaman yang merupakan kerjasama antara Climate Reality Indonesia dan Penerbit Diomedia ini terbagi dalam delapan bab, yaitu Ruang Keluarga Basis Kepedulian; Gema Nyata Perubahan Iklim; Gaung Korporasi dan Industri; Hamparan Lautan, Hutan, Demi Solusi Berbasis Alam; Retrospeksi Pengembangan Diri untuk Kepemimpinan; Moralitas Menuju Pembangunan Berkelanjutan; Sampah dan Mentalitas Manusia; serta Ibu Bumi Sanubari Kami.
Baca Juga: Indonesia Ajak Dunia Internasional Perhatikan Negara Kepulauan
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Rp 240 Triliun Biaya MBG Masuk Anggaran Pendidikan 2027, Pemerintah Dinilai Kangkangi Putusan MK
-
2.557 Pendaki Padati Gunung Bawakaraeng untuk Kibarkan Merah Putih, Begini Situasi Terkini
-
POV Mahasiswa: Menjadi Agent of Change dari Bli Nyoman Desa Sejahtera Astra
-
Tanggap Gempa Flores, BRI Peduli Turun Langsung Bantu Masyarakat Terdampak Bencana
-
Kim Soo Hyun Comeback di Dunia Hiburan, Lebih dari 40 Proyek Menanti
-
Solar Run 2026 Bawa Pesan soal Gaya Hidup dan Energi Bersih
-
Gempa Flores NTT, BRI Peduli Gerak Cepat Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak
-
Sempat Gelap Gulita Pasca Gempa, 98,3% Jaringan Listrik di NTT
-
Ulasan The Husband: Saat Retaknya Pernikahan Berujung Kriminal
-
Bayi Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Aceh Timur, BKSDA Ungkap Dugaan Penyebabnya