PURWASUKA - Mesjid Agung Baing Yusuf memiliki sejarah yang sangat penting dalam penyebaran agama Islami di Kabupaten Purwakarta.
Diketahui mesjid tersebut menjadi bukti dan saksi masuknya agama Islam di Kabupaten Purwakarta.
Mesjid Agung Baing Yusuf berdiri di jantung Kota Purwakarta sekitar areal Kantor Pemkab Purwakarta tepatnya di Jalan Gandanegara, Kelurahan Cipaisan, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta.
Didirikan oleh Syekh Baing Yusuf bernama asli Raden H Mochammad Joseoef bin Raden Djajanegara pada Tahun 1826. syekh Yusuf merupakan keturunan ke-24 dari penguasa tanah Sunda Prabu Siliwangi 1.
Iing Solihin, keturunan ke enam dari Raden Mochammad Joseof menceritakan awal mula dibangunnya masjid ini.
Awalnya bangunan masjid ini berbentuk menyerupai padepokan yang bergaya khas Jawa Barat, namun setelah beberapa kali mengalami pemugaran hingga menjadi bangunan mesjid yang kekinian.
"Pada tahun 1826 syekh yusuf mulai mendirikan mesjid di sini, mesjid agung ini sekaligus alun-alun kiansantang, kenapa di bangun disini karena yang menjadi sasaran penyebaran islam itu adalah para badega padjajaran atau galuh pakuan, badega itu adanya diantaranya di daerah kutawaringin yang sekarang pasar rebo dan sindang kasih dekat dengan mesjid ini," ujar Iing yang juga sebagai pengurus DKM Mesjid Agung Baing Yusuf, Selasa, 4 April 2023.
Proses penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Syekh Yusuf berlangsung dari Bogor, Banten, hingga Karawang. Perjalanan penyebaran agama Islam oleh Syekh Yusuf berlanjut hingga Kabupaten Purwakarta, Iing mengatakan, penyebaran tersebut terjadi karena adanya Perang Makau sehingga dibuatlah Karesidenan di wilayah Wanayasa 1821.
Selain bangunan masjid, peninggalan syekh yusuf yang masih bisa ditemukan di komplek masjid ini adalah karya syekh yusuf yakni kitab fikih dan tasawuf berbahasa sunda dengan tuliskan huruf arab, mushaf dengan tulisan tangan, serta sebuah pedang panjang yang digunakan sebagai pegangan saat khutbah jumat kala itu.
Baca Juga: Dihantam Trust Issue, Asa Terakhir Puan Jadi Capres 2024: Sahkan UU Perampasan Aset
Di mesjid inilah syekh yusuf atau baing yusuf menyebarkan agama islam di purwakarta, beliau melakukan penyebaran secara lisan kepada warga ataupun sekelompok orang yang belum sempurna keislamannya.
"Kitab itu sengaja di susun oleh beliau dalam bahasa sunda, tujuannnya untuk mempermudah warga memahami islam. Orang-orang yang belajar di mesjid ini bisa membaca kitab itu," katanya.
Baing yusuf lahir pada rahun 1700-an di Bogor, di usai 7 tahun beliau sudah berbahasa dua bahasa, yakni Sunda dan Arab, kemudian di usia 11 tahun telah hafal Alquran 30 juz, hingga usia 13 tahun disekolahkan ke Mekkah selama 11 tahun hingga akhirnya kembali ke Indonesia di usia 24 tahun.
Baing wafat pada tahun 1854, beliau dimakamkan di belakang masjid ini serta terdapat makam sejumlah tokoh lain dari pemimpin awal kabupaten Kawarang dan Purwakarta. Biasanya makam syekh baing yusuf ramai dikunjungi penziarah saat bulan mulud, menjelang ramadan dan bulan rajab.
Penziarah yang datang umumnya berasal dari luar kota purwakarta dan paling banyak berasal dari banten, mengingat di daerah banten syekh yusuf mempunyai murid yakni Syekh Nawawi Al-Bantani yang menjadi imam besar Masjidil Haram di masa itu.***
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Peringati Tragedi Mei 1998, Komnas Perempuan Ingatkan Sejarah Kelam Kekerasan Seksual Massal
-
Pemilahan Sampah di Jakarta Dinilai Butuh Sistem Data yang Lebih Terbuka, Mengapa?
-
Misteri Batu Garuda di Belitung: Keajaiban Geologi yang Membuat Dunia Terpukau
-
Wamenhan RI Puji Langkah Andi Sudirman Bentuk Komcad ASN
-
Pendidikan Aksa Uyun, Anak Soimah yang Sudah Jadi Direktur di Usia Muda
-
Seleksi Direksi BEI Berjalan Sesuai Aturan, Ini Bocoran dari OJK
-
Film Sekiro: No Defeat Umumkan Tayang Terbatas di Jepang Mulai 4 September
-
Afgan Gelar Konser Tunggal Retrospektif: Simak Daftar Harga Tiket Mulai Rp600 Ribuan!
-
Belajar Memeluk Luka Masa Kecil Lewat Buku How to Heal Your Inner Child
-
Jakarta Barat Dikepung Dua Proyek Besar, Arus Daan Mogot dan Latumenten Direkayasa