PURWOKERTO.SUARA.COM - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto menggelar webinar bertajuk "Tantangan Profesionalisme dan Kesejahteraan Jurnalis di Era Digital" pada Sabtu, 14 Mei 2022. Webinar diselenggarakan dalam rangka peringatan World Press Freedom Day (WPFD) atau hari kebebasan pers sedunia tahun 2022.
Pada webinar ini, AJI menghadirkan dua narasumber, antara lain Sasmito Madrim, Ketua Umum AJI Indonesia dan juga Djadjat Sudradjat, mantan Pemimpin Redaksi Media Indonesia.
Di era digital, demokratisasi informasi memang berkembang. Saluran informasi makin beragam. Publik punya banyak pilihan kanal untuk menyuarakan dan mengakses informasi.
Namun di sisi lain tantangan jurnalisme juga semakin berat.
Merebaknya hoaks dan realitas buzzer bayaran marak merupakan sedikit dari banyak tantangan teknologi digital.
Selain itu, menjamurnya media online yang menghamba pada klik juga tantangan yang tak kalah penting. Algoritma mesin pencari menjadi panduan baru yang kadang menggeser kode etik jurnalistik.
"Karena itu muncul istilah kode etik algoritma atau kode etik google," ucap Sasmito.
Sasmito yang juga jurnalis Voice of America (VOA) memaparkan kesejahteraan jurnalis menjadi satu di antara agenda utama AJI Indonesia. Perjuangan kesejahteraan butuh kesadaran dan gerakan kolektif jurnalis yang juga berstatus buruh.
"Dengan mengorganisir diri, jurnalis mempunyai peluang lebih besar untuk mewujudkan kesejahteraan jurnalis," ujar dia.
Menurut Sasmito, kesejahteraan erat kaitannya dengan profesionalisme jurnalis. Sulit bagi jurnalis berlaku profesional jika kesejahteraan jurnalis tak terpenuhi meskipun kesejahteraan saja tak menjamin laku profesional seorang jurnalis.
Namun kesejahteraan tetap saja menjadi prasyarat penting mewujudkan profesionalisme, selain komitmen terhadap profesi jurnalis itu sendiri.
Karena memiliki kaitan erat, upaya mewujudkan profesionalisme dan kesejahteraan jurnalis juga sama-sama butuh kolektivitas. Satu di antaranya dengan membentuk serikat pekerja dan memperjuangan perjanjian kerja bersama (PKB).
"Dalam PKB ini jurnalis bisa mencantumkan klausul hak-hak jurnalis dan pasal tentang misalnya jurnalis tidak boleh dibebani kewajiban mencari iklan," ujar dia.
Sementara Djadjat mengumpamakan profesionalisme dan kesejahteraan jurnalis sebagai satu paket yang tidak terpisahkan. Keduanya sama-sama dibutuhkan untuk mewujudkan jurnalisme yang berkualitas.
"Tanpa profesionalisme dan kesejahteraan jurnalis, bagaimana bisa membuat karya jurnalistik yang berkualitas," kata Djadjat.
Terkait tantangan era digital, ia yakin media sosial sebagai produk teknologi digital tak akan menggantikan jurnalisme. Jurnalisme berisi disiplin verivikasi dan klarifikasi yang ketat, sehingga menghasilkan karya jurnalistik yang valid.
Ini berbeda dengan media sosial yang berisi informasi yang tidak melalui proses yang sama dengan karya jurnalistik.
Di tengah kepungan digital ini, Djadjat justru optimistis keberadaan jurnalisme menjadi semakin krusial. Publik tetap membutuhkan informasi yang valid. Dan hanya jurnalisme yang menyediakan karya jurnalistik yang bisa dipercaya.
"Semesta tidak akan menghapus hal-hal baik, semesta menghapus hal-hal yang buruk. Karena itu saya yakin jurnalisme akan tetap ada dan dibutuhkan masyarakat," tutupnya.
Tag
Berita Terkait
-
CIMB Niaga Bidik Nasabah Keluarga untuk Perluas Layanan Keuangan Digital
-
Industri Kripto Makin Tumbuh, OJK Perkuat Regulasi Keuangan Digital
-
Boby Berliandika X Factor dan Istri Rajut Karier Musik hingga Bisnis di Tengah Gempuran Digitalisasi
-
Era Baru Digital, DompetX Hadirkan Infrastruktur Payment Gateway untuk UMKM hingga Korporasi
-
Suara AI Bisa Meniru Pejabat, Komdigi Peringatkan Modus Scam Baru Rugikan Masyarakat Rp7,5 Triliun
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 4,03 Miliar Dolar AS hingga Mei 2026
-
Menanti Rp18.000 per Dolar AS: Rapuhnya Tameng Dedolarisasi Kita
-
Austria Dibantai Spanyol, David Alaba Sebut Hydration Break Ubah Jalannya Pertandingan
-
Tak Puas Vonis 10 Tahun! Kejagung Banding dan Persoalkan Tahanan Rumah Nadiem Makarim
-
Divonis 10 Tahun, Kenapa Hakim Andi Saputra Ingin Nadiem Makarim Bebas?
-
Dari Ratusan Perusahaan, Mengapa Danantara Hanya Buka Kinerja 11 BUMN?
-
Cristiano Ronaldo Cetak Rekor Jadi Pencetak Gol Tertua di Fase Knockout Piala Dunia!
-
Cristiano Ronaldo Pecahkan Kutukan Fase Gugur, Intip Rekornya usai Portugal Singkirkan Kroasia
-
SIMANTAP! Tak Perlu Izin Kerja, Warga Sidoarjo Kini Bisa Urus SIM Sambil Menikmati Angin Malam
-
Update Harga Emas di Pegadaian Hari Ini: Antam, UBS, dan Galeri 24 Bisa Diborong!