PURWOKERTO.SUARA.COM Memiliki anak yang susah makan menjadi kekhawatiran setiap orang tua. Anak yang susah makan atau dikenal dengan Gerakan Tutup Mulut (GTM) adalah kondisi anak susah untuk makan atau cenderung menutup mulutnya. Kebutuhan nutrisi menjadi sulit terpenuhi karena asupan masakan kurang.
Dalam buku Health First RS Pondok Indah, GTM terbagi menjadi dua yaitu organik dan fungsional. GTM organik disebabkan adanya masalah pada organ pencernaan seperti lidah, bibir, gigi, tenggorokan, lambung, dan lain-lain. GTM fungsional disebabkan adanya gangguan psikologis seperti trauma makan, depresi, kecemasan, dan lain-lain.
Bebagai hal dapat menjadi penyebab seorang anak GTM mulai dari kondisi internal ataupun eksternal seperti berikut:
1.Kebiasaan orangtua terlalu memaksa anak saat makan secara berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan anak trauma untuk makan.
2.Mengancam anak untuk makan dengan kekerasan
3.Kebiasaan makan sambil melakukan berbagai aktivitas lain seperti jalan-jalan, menonton televisi, dan lain-lain yang mengalihkan perhatiannya
4.Terlalu menargetkan makanan harus habis sehingga makan dilakukan berjam-jam
5.Minum terlalu banyak dan mani sehingga membuat anak menjadi kenyang sebelum makan
6.Kebiasaan memberi hadiah kepada anak jika mau makan. Hal ini membuatnya bergantung pada hadiah yang diberikan.
Baca Juga: Jaga Kesehatan Hewan Peliharaan, Perhatikan Anggota Tubuhnya
Orang tua harus segera mengatasi masalah GTM anak. Karena jika dibiarkan akan memengaruhi pertumnuhan dan perkembangan anak karena kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi. Kondisi tersebut dapat membuat anak tidak tumbuh dengan optimal. Anak yang mengalami GTM juga sulit mencapai berat badan dan tinggi ideal.
GTM juga dapat memengaruhi tingkat imunitas anak. Hal ini dapat membuat anak rentan terkena berbagai infeksi seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), infeksi saluran kemih (ISK).
GTM juga dapat terjadi pada usia berapapun. Untuk itu, orangtua harus bisa mengontrol kondisi anak yang mengalami GTM. Jika masih sulit dan berpengaruh pada kondisi kesehatannya, orangtua dapat membawa ke dokter spesialis anak untuk menemukan solusi terhadap permasalah tersebut. (iruma cezza)
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Terkini
-
7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
-
Transformasi Digital BRI Dongkrak Transaksi QRIS hingga Rp30,5 Triliun
-
Persija Bantah IPO, Tegaskan Belum Ajukan Pencatatan Saham ke BEI
-
Mau Ditangkap, Benjamin Netanyahu Minta Zohran Mamdani Jadi Walikota untuk Muslim Hingga Yahudi
-
BRI Catat Lonjakan Transaksi QRIS 76 Persen pada Triwulan I 2026
-
Bisnis Merchant Tumbuh, Transaksi QRIS Meningkat Berkat Transformasi Digital BRI
-
Nyawa Dibayar Ayam Sabung: Alarm Keras untuk Penegakan Hukum dan Nurani Kita
-
Ekshumasi Jadi Opsi! Polisi Bakal Bongkar Makam Sutrimo Demi Ungkap Tabir Kematian
-
BRI Genjot Transformasi Digital, Merchant Berkembang dan Transaksi QRIS Melesat
-
Rupiah dan Saham Melemah Imbas Gubernur BI Mundur, Ini Langkah Prioritas Pejabat Sementara