/
Jum'at, 23 September 2022 | 10:37 WIB
Ketua KPK, Firly Bahuri (kiri) menunjukkan kamus bahasa Inggris yang ternyata kotak yang berisi uang yang diduga hasil suap penanganan perkara di MA. (KPK)

PURWOKERTO.SUARA.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap kasus dugaan suap Hakim Agung, Jumat, 24 September 2022. Dari hasil penggeledahan satu di antara tersangka, KPK menemukan buku bersampul English Dictionary yang setelah dibuka ternyata bukan kamus, namun kotak berisi uang puluhan juta rupiah.

Penggeledahan dilakukan di rumah PNS Kepaniteraan Mahkamah Agung berinisial DY. DY merupakan perantara antara pemberi suap dengan hakim agung yang disuap yaitu SD.

Dari hasil penggeledahan, KPK menemukan uang Rp 50 juta. Uang itu diduga merupakan pemberian  terkait penanganan perkara di MA.

Firly Bahuri, Ketua KPK, menjelaskan kasus suap berawal dari ketidakpuasan sebuah Koperasi Simpan Pinjam atas putusan sidang perdata di Pengadilan Negeri Semarang dan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah.

Pengelola Koperasi Simpan Pinjam yang mengajukan permohonan pailit ini kemudian mengajukan kasasi ke MA. Untuk memuluskan tujuannya, para tersangka dari Koperasi Simpan Pinjam menyuap Hakim Agung melalui PNS Kepaniteraan Mahkamah Agung.

Namun upaya itu gagal setelah KPK menangkap tangan PNS Kepaniteraan MA yang bertugas menjadi perantara penyuap dan hakim agung yang akan disuap. 

KPK menetapkan 10 orang tersangka. Sebanyak enam di antara 10 tersangka itu telah ditahan hingga 20 hari ke depan.

"Kepada empat orang tersangka lain kami harap kooperatif," ujar Firly.

Empat orang ini akan dipanggil KPK. Jika mereka mangkir, KPK akan melakukan upaya paksa dengan menjemput yang bersangkutan.

Baca Juga: Pengadil Tertinggi Tersangkut Korupsi, Ini Perjalanan Kasus Hakim Agung MA Cs Kena OTT KPK

"Kami sudah memiliki identitasnya, juga sudah punya fotonya," kata dia.

Firly menyatakan suap sebesar 205 ribu dolar Singapura dibagi ke beberapa orang. DY mendapat Rp 250 juta, MH (PNS Kepaniteraan MA) mendapat Rp 850 juta, ETP (Hakim Yudisial/ panitera) Rp 100 juta, dan SD hakim agung menerima Rp 800 juta.

KPK Sempat Minta Maaf

KPK melalui komisionernya, Gufron, sempat meminta maaf setelah menyatakan keprihatinannya mengungkap kasus suap hakim agung. Ia menyebut kasus ini belum tentu menyeret hakim agung. 

Namun yang terbaru, Firly menyatakan melalui konferensi pers bahwa KPK memang menangkap tangan para pihak terkait suap hakim agung. KPK pun menyatakan cukup bukti untuk menetapkan 10 orang tersangka.

"Kami masih terus mendalami kasus ini," katanya.

Load More