- Aktivis kemanusiaan dan Komnas HAM mengkritik pelaksanaan Proyek Strategis Nasional di Papua karena prosesnya tidak melibatkan partisipasi masyarakat lokal.
- Pelaksanaan proyek tersebut dinilai mengabaikan hak ulayat dan berpotensi memicu marjinalisasi serta konflik sosial di berbagai wilayah Papua.
- Pemerintah pusat dan daerah belum memberikan transparansi data terkait status hukum 11 titik lokasi proyek yang tersebar luas.
Suara.com - Implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tanah Papua menuai kritik tajam dari aktivis kemanusiaan dan lingkungan.
Proyek-proyek tersebut dinilai mengulangi pola pendekatan lama yang tidak partisipatif dan berpotensi memperparah marjinalisasi masyarakat adat Papua di atas tanahnya sendiri.
Hal tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) bertajuk "Terjebak di antara Dua Senjata: Eksploitasi Sipil dan Ruang Hidup Papua di Bawah Bayang-bayang PSN" di The Acacia Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).
Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits B. Ramandey, menyatakan bahwa meski PSN secara umum memiliki niat yang baik, namun proses pelaksanaannya di lapangan justru mengabaikan keterlibatan aktif masyarakat.
Ia memperingatkan bahwa pengalihan fungsi lahan secara masif akan berdampak langsung pada tersisihnya warga lokal.
"Secara keseluruhan proyek PSN itu sebenarnya maksudnya baik, caranya itu tidak partisipatif. Sehingga proyek PSN ini dia hanya mengulangi pendekatan yang salah dan berpotensi memarjinalkan orang Papua di tanahnya sendiri," tegas Frits dalam forum tersebut, pada Selasa (26/5/2026).
Frits juga menyoroti peran pemerintah daerah dan pusat yang terkesan membiarkan konflik sosial terjadi akibat kehadiran PSN.
Ia menyamakan pola PSN dengan korporasi-korporasi besar yang sebelumnya telah masuk ke Papua dan memicu perpecahan di tengah masyarakat.
"Dalam kasus PSN di Merauke itu pemerintah daerah dan pemerintah pusat justru membiarkan, jadi PSN itu seperti korporasi baru," ujarnya.
Baca Juga: Lahan Papua Cuma Dihargai Rp300 Ribu, Yorrys Raweyai: Itu Tidak Manusiawi
Perwakilan Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Ambrosius Mulait, juga menilai proyek PSN menambah panjang daftar sejarah eksploitasi di Papua yang tidak membawa kesejahteraan bagi pemilik hak ulayat.
Ia mencontohkan sejarah masuknya Freeport di Mimika yang hingga kini dianggap belum menguntungkan suku-suku lokal seperti Amungme dan Kamoro.
"Yang pertama, kalau berbicara soal proyek PSN ini, eh dia mengulangi sejarah-sejarah sebelumnya misalkan Freeport masuk ke Mimika yang sampai hari ini tidak menguntungkan orang Papua atau orang Amungme atau Kamoro dan sebagainya," ujar Ambrosius.
Ambrosius mengungkapkan kekhawatiran mengenai transparansi data dan status hukum wilayah-wilayah yang masuk dalam daftar PSN.
Berdasarkan catatan Yayasan Pusaka, terdapat sekitar 11 titik PSN yang tersebar dari Manokwari hingga Merauke, namun informasi resminya masih sulit diakses.
"Itu pun kami belum mendapatkan putusan hukum atau dari pemerintah bahwa wilayah-wilayah mana saja yang menjadi status proyek PSN di Papua, tapi dalam catatan kami di Pusaka itu ada sekitar 11, antaranya mulai dari Manokwari, Sorong, Fakfak, Bintuni, Nabire, dan Merauke," jelasnya.
Secara khusus, ia menyoroti ekspansi lahan di wilayah Merauke yang terus meluas hingga ke kabupaten tetangga setelah terbitnya aturan baru dari Kementerian Kehutanan.
"Dalam konteks Merauke ini dengan total luasannya itu 2,3 juta hektar, tapi ada penambahan setelah kementerian kehutanan mengeluarkan SK baru, dalam konteks itu ada penambahan lokasi dari mulai Merauke ke Mappi dan juga Boven Digoel," lanjutnya. (Reporter: Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Lahan Papua Cuma Dihargai Rp300 Ribu, Yorrys Raweyai: Itu Tidak Manusiawi
-
Polemik PSN Papua Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata, DPD Resmi Bentuk Pansus
-
Pesta Babi dan Luka di Tanah Papua
-
Mama Sinta Berbalik Dukung Food Estate Papua Selatan, Akui Kecewa Pernah Dimanfaatkan
-
DPR Soroti PSN 1 Juta Hektare, Begini Katanya
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bikin Melongo! Polri Pamerkan 74 Kg Emas hingga Ratusan Miliar Hasil Sitaan Kasus Jampidsus
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
Terkini
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Polisi Periksa Taipan Tan Kian Jadi Saksi di Kasus Korupsi Jumbo yang Seret Jampidsus
-
Polisi Periksa 15 Saksi Korupsi, Sekuriti Rumah Jampidsus Febrie di Sentul Ikut Dicecar
-
Polda Metro Jaya Pastikan Bakal Periksa Jampidsus Febrie Soal Rumah, Dolar hingga Emas 74 Kg!
-
816 Titik Bazar Daging Murah Sudah Sambangi Permukiman Warga Jakarta
-
Kejagung Bantah Datangi Polda Metro Jaya Pasca Penggeledahan Cafe de'Clan Signature
-
Geledah 13 Lokasi dan Sita 74 Kg Emas Tapi Belum Ada Tersangka, Polda: Masih Pendalaman Paripurna
-
Prabowo: Banyak yang Nyusup ke MBG untuk Jadi Maling!
-
Open House Sekolah Rakyat di Lombok Barat, Gus Ipul: Siswa Tunjukkan Banyak Perubahan