News / Nasional
Selasa, 26 Mei 2026 | 15:54 WIB
Peneliti Indonesia diduga pakai riset palsu untuk travel grant ke berbagai negara [Ist]
Baca 10 detik
  • Dosen Universitas Udayana mengungkap skandal pemalsuan karya ilmiah sistematis oleh sekelompok peneliti Indonesia dalam konferensi ISPPD 2026 di Denmark.
  • Para pelaku menggunakan data fabrikasi berbasis kecerdasan buatan serta identitas fiktif demi mendapatkan dana perjalanan ke berbagai negara.
  • Akibat manipulasi tersebut, komite penyelenggara resmi membatalkan seluruh karya, melakukan blacklist, dan mencabut pendanaan bagi para oknum terlibat.

Suara.com - Dunia akademik tanah air diguncang isu miring setelah mencuatnya draf dugaan manipulasi karya ilmiah secara sistematis oleh oknum periset mandiri asal Indonesia. 

Dugaan skandal pemalsuan berskala internasional ini mendadak viral di media sosial setelah diungkap secara terbuka oleh Ida Bagus Mandhara Brasika, seorang dosen sekaligus peneliti dari Departemen Ilmu Kelautan Universitas Udayana.

Melalui platform digitalnya pada Senin (25/5/2026), Mandhara membeberkan draf temuan yang mengindikasikan runtuhnya moralitas akademik tersebut.

“Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan,” tulis Mandhara di akun Thread miliknya pada Senin.

Menurut pandangan Mandhara, implikasi dari tindakan culas ini bertolak belakang dengan upaya komunitas ilmiah domestik yang sedang berjuang membangun reputasi di kancah global.

“Saat ini, ilmuwan Indonesia di tingkat dunia sangat sedikit jumlahnya. Dengan kejadian ini, akan semakin sulit lagi,” cetus Mandhara.

Kronologi Pembongkaran Kedok di Kopenhagen

Berdasarkan draf penelusuran draf kronologi, titik balik terbongkarnya aksi ini terjadi saat perhelatan akbar International Society of Pneumococcal and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026, sebuah konferensi elite bagi para pakar pneumonia sedunia yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Di tengah forum ilmiah tersebut, sekelompok delegasi non-instansi dari Indonesia mempresentasikan materi draf penelitian yang sekilas tampak sangat impresif.

Baca Juga: Kapan Pengumuman Hasil TKA SD dan SMP 2026? Simak Jadwalnya

Namun, kecurigaan delegasi lain muncul ketika melihat gelagat aneh salah satu oknum di atas panggung. Oknum perempuan tersebut disinyalir melakukan manipulasi identitas fisik secara ekstrem saat melakukan presentasi berkali-kali: ia berganti nama, mengubah model jilbab, hingga menukar kalung kartu identitas (nametag) agar terlihat sebagai individu yang berbeda.

Kejanggalan draf perilaku tersebut memicu pemeriksaan lebih lanjut terhadap substansi materi ilmiah yang mereka bawa.

Ketika Mandhara melayangkan draf pertanyaan teknis dan menuntut penjelasan mendalam mengenai metodologi operasional di lapangan, sang intermedian tidak mampu memberikan draf jawaban ilmiah sama sekali.

Setelah draf dokumen artikel ilmiah mereka dibedah, draf lokasi riset yang tertera di dalamnya dinilai sama sekali tidak masuk akal sehat.

Kelompok periset ini mengklaim telah mengumpulkan draf spesimen dan data klinis dari wilayah geografi yang sangat luas dan ekstrem, mencakup kawasan Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara.

“Tapi perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik,” tulis Mandhara.

Load More