PURWOKERTO.SUARA.COM - Masyarakat Indonesia diketahui mayoritas beragama Islam, di satu sisi mayoritas umat Islam di Indonesia menerima Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia.
Wakil Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Afifuddin Muhajir (Afif) mengungkapkan, ada tiga alasan dan perspektif yang menjadi alasan umat Islam menerima Pancasila.
Dikutip dari Laman Kemenag, menurut KH Afif, alasan pertama bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam dan tidak ada satu ayat pun yang berbeda dengan syariat Islam yang ada pada kitab suci Al-Quran.
Pandangan kedua, Pancasila dinyatakan selaras dengan syariat (yuwafiq as-syariah) karena ajaran-ajaran di dalamnya mengajarkan kebaikan dan dibuat untuk kemaslahayan ummat.
Pendapat ketiga atau terakhir, umat Islam melihat bahwa pancasila itu adalah cerminan implementasi sebagian syariat Islam.
Maka dengan tiga perpektif tersebut, para ulama Indonesia saat itu menyadari bahwa menjalankan pancasila sama saja dengan menjalankan syariah. Inilah yang disebut sebagai jalan tengah (tawassuth).
Menurut KH Afif, karena hal-hal tersebut, para ulama merelakan untuk menurunkan idealismenya disesuaikan dengan kondisi empiris. Maka tanpa Pancasila, bisa jadi saat ini belum ada Indonesia.
Penjelasan teori tentang tawasuth ini juga dijadikan dasar penerimaan umat Islam atas ajaran Islam yang bersinergi dengan budaya-budaya lokal, yang kemudian dikenal dengan Islam Nusantara.
Terkait makna istilah Islam Nusantara, KH Afif menerangkan setidaknya ada tiga penafsiran. Pertama, yang dimaksud dengan Islam Nusantara adalah Islam yang didakwahkan di wilayah nusantara. Kedua, Islam dipahami oleh masyarakat nusantara. Ketiga, Islam yang diikuti oleh masyarakat nusantara.
Baca Juga: Apa Itu Phising? Begini Cara Menghindarinya di Instagram
Munculnya corak tersebut dikarenakan para ulama penyebar Islam pertama di bumi nusantara sudah melihat bahwa nilai-nilai penghuni bumi nusantara sudah dipandang sejalan dengan Islam minus syahadat.
Maka dari itu, tradisi yang berkembang dibiarkan bahkan ada yang disinergikan dengan ajaran Islam. Para ulama tersebut datang tidak membawa budaya di mana Islam itu lahir. (Arif KF)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Al-Ittihad Kembali Dekati Mohamed Salah usai Putuskan Tinggalkan Liverpool
-
Vinicius Junior Tegaskan Komitmen Bertahan di Real Madrid
-
Rezeki Melimpah, Ini 6 Shio yang Paling Beruntung 26 Maret 2026
-
Identik dengan Maaf-Maafan, Ini Makna Asli Idulfitri yang Jarang Disadari
-
CAS Konfirmasi Banding Senegal atas Pencabutan Gelar Piala Afrika 2025
-
Orlando City Resmi Gaet Antoine Griezmann, Dikontrak Hingga 2028
-
Kemanusiaan dan Empati jadi Alasan Keenan Nasution Tak Perpanjang Kasus dengan Vidi Aldiano
-
Tol Banyumanik Dipadati Arus Balik Menuju Jakarta
-
KAI Pastikan Layanan Lebaran 2026 Optimal, Penjualan Tiket Tembus 97,7 Persen
-
Kylian Mbappe Bocorkan Tips Rahasia demi Prancis Juara Piala Dunia 2026