/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 09:55 WIB
kerusuhan pasca pertandingan Arema Vs Persebaya

PURWOKERTO.SUARA.COM, MALANG- Kerusuhan suporter yang mengakibatkan 127 orang di stadion Kanjuruhan Malang menjadi salah satu insiden terburuk dalam sejarah persepakbolaan Indonesia, bahkan dunia. 

Akbar Maharli, Koordinator Save Our Soccer menilai, insiden maut ini bakal menjadi perhatian serius FIFA. Terlebih, Indonesia bakal menjadi tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia U-20 di Tahun 2023. Akibat insiden ini, FIFA bisa saja mengkaji keputusannya untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia U-20. 

Ini tentunya merugikan rakyat Indonesia yang sudah menanti momentum bersejarah itu. 

“Kalau insiden itu gak disikapi serius oleh stakeholder, FIFA bisa mengkaji keputusannya,”katanya

Karenanya, stakeholder terkait harus menyikapi insiden ini secara serius agar jangan sampai FIFA mengambil keputusan yang merugikan rakyat Indonesia. Ia juga berharap ada sanksi bagi pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini, baik terkait pelanggaran pidana maupun pelanggaran posedur dan keamanan stadion. 

Ia menyayangkan panitia pelaksana menjual tiket penonton melebihi yang diizinkan oleh Kepolisian, dari yang diizinkan sekitar 25 ribu orang namun yang terjual mencapai sekitar 45 ribu tiket. 

Di sisi lain, ia juga menyoroti cara Kepolisian dalam mengendalikan kerumunan dengan menembakkan gas air mata. Padahal, penggunaan gas air mata untuk mengontrol kerumunan dilarang. 

Padahal dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations, pasal 19 b, penggunaan senjata api atau gas untuk mengontrol kerumunan dilarang. 

127 orang Tewas, 180 dirawat

Baca Juga: KPI Larang Pelaku KDRT Tampil di TV dan Radio, Inikah Akhir Karier Rizky Billar?

Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta mengatakan, pertandingan antaran Persebaya versus Arema FC mulanya berjalan lancar. Sampai berakhir dengan kekalahan tuan rumah, Arema FC, suporter mulai ribut. Sebagian suporter kecewa tim kesayangan mereka menelan kekalahan dari tim tamu. 

Ribuan suporter turun ke lapangan untuk mencari pemain dan official untuk menanyakan atau melampiaskan kekecewaannya. Pihaknya melakukan pengamanan untuk pencegahan dan pengalihan suporter agar tak masuk ke lapangan. 

“Dalam proses itu, untuk melakukan pencegahan sampai dikeluarkan gas air mata ketika suporter sudah mulai menyerang petugas dan merusak mobil,”katanya

Di tengah kejadian itu, terjadi penumpukan suporter. Para suporter berdesak-desakan hingga banyak yang sesak nafas atau kekurangan oksigen. Insiden itu mengakibatkan ratusan suporter meninggal. 

Pihaknya mencatat, terdapat 127 suporter meninggal akibat insiden tersebut. 2 di antara korban adalah anggota Polri yang tengah melakukan pengamanan. Adapun 180 suporter lain masih menjalani perawatan di rumah sakit. 

Selain menimbulkan banyak korban jiwa, insiden itu juga mengakibatkan 13 mobil rusak, 10 mobil di antaranya adalah mobi dinas Polri, dan sisanya mobil pribadi. 

Load More