/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 08:56 WIB
suasana stadiun saat terjadi kericuhan

PURWOKERTO.SUARA.COM, MALANG- Kerusuhan suporter yang mengakibatkan 127 orang di stadion Kanjuruhan Malang menjadi salah satu insiden terburuk dalam sejarah persepakbolaan Indonesia, bahkan dunia. 

Akbar Maharli, Koordinator Save Our Soccer menilai, ada ketidaksigapan stakeholder terkait dalam insiden kerusuhan yang mengakibatkan 127 orang meninggal di stadion Kanjuruhan Malang. 

Akbar mengungkapkan, panitia pelaksana diduga mengabaikan surat edaran Kepolisian yang hanya mengizinkan mencetak tiket menonton pertandingan Arema FC vs Persebaya sekitar 25 orang. 

Namun kenyataannya, tiket yang terjual mencapai sekitar 45 ribu. Ini membuat stadions sesak penonton. PSSI juga dinilainya juga gagal mengantisipasi risiko keributan dua tim ini yang memiliki rivalitas tinggi. 

“Ini pertandingan kedua tim punya rivalitas tinggi. Arema boleh kalah dengan tim lain, asal tidak dengan Persebaya,”katanya dalam wawancara di channel Kompas TV

Ia juga menyoroti cara pihak keamanan dalam meredam massa. Penanganan pengamanan di stadion tidak seperti pengamanan saat aksi demonstrasi.  Problemnya, saat terjadi kerusuhan di stadion Kanjuruhan, polisi tidak punya caralain sehingga menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton. 

Ini yang menurutnya menyebabkan banyak penonton meninggal karena terinjak atau sesak nafas. 

Padahal dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations, pasal 19 b, penggunaan senjata api atau gas untuk mengontrol kerumunan dilarang. 

Ia pun menilai harus ada sanksi terhadap pelanggar hukum pidana maupun pelanggaran prosedur terkait  aturan Safety and Security. 

Baca Juga: Resmi, Per 1 OktoberPertamina Turunkan Harga Pertamax

“Senjata dan gas air mata gak boleh masuk lapangan untuk pengamanan,”katanya

Load More