PURWOKERTO.SUARA.COM – Jika Jawa Timur memiliki Kota Pasuruan dan Kecamatan Glenmore yang memiliki sejarah penjang peninggalan kolonial. Jawa Tengah juga tidak ketinggalan, bagi kalian yang sering hilir mudik melintas di wilayah Kabupaten Magelang.
Kecamatan Muntilan tentu bukan nama yang asing bagi kalian, jika ditilik sejarahnya ternyata nama tempat ini memiliki kisah yang sama dengan Glenmore, bedanya jika di Banyuwangi aksen bahasa dan penulisannya masih utuh.
Di Magelang penyebutan Muntikan sudah berubah sesuai dengan kearifan lokalnya. Muntilan merupakan frase dari masa kolonial berasal dari dua kata bahasa Inggris yaitu “Mount”yang berarti gunung dan “Land” yang berarti tanah.
Penyebutan ini diberikan oleh Sir Thomas Stamford Bingley Raffles merupakan seorang negarawan berkebangsaan Inggris yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Timur.
Nama Mount land muncul tak lepas dari letak wilayah tersebut yang berada persis di tengah-tengah deretan cincin gunung Merapi, Merbabu, Andong-Telomoyo, Sumbing, dan Pegunungan Menoreh.
Namun lantaran dialeg Jawa cukup masif berkembang di sini, membuat nama Mount Land yang diberikan Sir Raffles berubah pengucapan menjadi Muntilan. Hingga nama itulah yang tetap dipertahankan masyarakat sekitar hingga sekarang. Muntilan merupakan kota terbesar di wilayah Kabupaten Magelang.
Bahkan bila dibandingkan dengan Mungkid yang menjadi ibu kota kabupaten, Muntilan masih lebih besar. Apalagi di masa orde baru, kota ini sempat dimekarkan menjadi sebuah kota administratif yang rencananya akan dikembangkan untuk menjadi kota madya seperti Purwokerto di Kabupaten Banyumas. Namun lantaran krisis akhirnya hal itu urung dilakukan.
Setelah 77 Indonesia merdeka hingga saat ini ternyata masih ada peninggalan kolonial yang masih bisa ditemui di Muntilan. Bahkan jejak peninggalan kolonial di Muntilan yang paling prestisius menyimpan lembar kisah cerita pengaruh agama Katolik di Pulau Jawa.
Lokasi ini adalah Museum Misi Muntilan yang merupakan museum khusus yang ada sejak 23 Juli 1998. Museum ini merupakan kompleks yang terdiri dari Gereja Santo Antonius Muntilan, sekolah katolik, hingga gedung kesusteran yang beralamat di Jalan Kartini Nomor 03, Balemulyo, Muntilan, Kabupaten Magelang.
Baca Juga: Anti Ribet, Begini Cara Membuat Akun Gmail dari HP
Gedung gereja katolik tersebut merupakan yang paling bersejarah yang dibangun pada masa Romo Frans van Lith pada tahun 1914, seorang pastur dari Belanda yang mengabdikan diri untuk menyebarkan agama Katolik di tanah Jawa.
Karya bangunan gereja itu diinisiasi oleh arsitek handal Hulswit, Fermont, en Cuypers yang pada masanya yang juga membangun gereja-gereja di Jawa. Akibat pengaruh Romo Frans, Muntilan hingga kini mafhum dikenal dengan julukan Betlehem van Java.
Museum Misi Muntilan sendiri dibangun untuk melestarikan sejarah lahirnya Gereja Katolik tersebut di tanah Jawa sekaligus sebagai tempat bagi umat Katolik dalam merenungkan perjuangan para tokoh Katolik Jawa. Saat kalian berkunjung di sini, mulai depan gedung museum akan disambut patung Romo Frans van Lith.
Sedangkan didalam gedung lantai dua kalian bisa menemukan berbagai koleksi barang bersejarah Kekatolikan, seperti relikui, kitab-kitab doa, beragam jubah, hingga kisah andil tokoh-tokoh Katolik Jawa dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.
Salah satu yang paling mencuri perhatian bagi wisatawan yang berkunjung ke sini ialah berbagai benda peninggalan dari Monseignor Albertus Soegijapranata, uskup pribumi Indonesia pertama yang dulu menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.
Beliau juga ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, karena usahanya dalam membantu kemerdekaan Indonesia. Meski difokuskan sebagai tempat ziarah bagi umat Katolik, museum ini tetap bisa menjadi tempat setiap orang Indonesia dari berbagai agama untuk belajar mengenai toleransi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Uang Beredar Tembus Rp10.415 Triliun, BI Ungkap Likuiditas dan Kredit Makin Kencang
-
Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
-
Adaptasi Anime Fool Night Resmi Diumumkan, Kolaborasi Sunrise dan SHAFT
-
Genset 1000 Watt Bisa untuk Apa Saja? Ini 3 Pilihan dan Harganya
-
Ribuan Aset Daerah di Malang Dipatok Target Sertifikasi Demi Cegah Mafia Lahan
-
4 HP Baterai 7000 mAh di Bawah Rp3 Juta: Performa Mantap, Anti Lowbat Seharian
-
Wisata Gastronomi Kian Dilirik, Dinilai Bisa Jadi Penggerak Ekosistem Kuliner Indonesia
-
7 Cara agar Pompa Air Tidak Mancing, Cek Penyebab dan Solusinya
-
Gara-gara Beda Baju, 2 Pemuda di Surabaya Dikeroyok Kelompok Perguruan Silat
-
Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik