PURWOKERTO.SUARA.COM, Dalam rangka Lomba Karya Tulis Ilmiah tentang Cagar Budaya tingkat Provinsi Jawa Tengah Agustus mendatang,
Beberapa siswa SMAN 1 Sigaluh membuat karya tulis tentang cagar budaya yang ada di Banjarnegara.
Dari hasil observasi di lapangan, mereka mendapati dua kondisi yang berbeda.
Umi Asih meneliti cagar budaya bendung Singamerta yang dibangun sejak era kolonial.
Ia menemukan bahwa, bendungan tersebut masih berfungsi baik.
Bahkan bendungan itu menjadi sumber irigasi bagi masyarakat Banjarnegara di bagian selatan sungai Serayu sampai sekarang.
Bendungan itu mengairi lima ribu lebih hektar lahan pertanian warga.
"Beberapa bagian memang sudah ada perubahan, karena tahun 1980 sempat direnovasi. Namun secara umum kondisinya bagus, bahkan bisa mengaliri 5.759 hektar lahan pertanian," jelas Umi.
Tak hanya bendung Singamerta, Umi juga akan menyandingkan penelitiannya dengan bendung Bandjar Tjahjana Werken (BTW) yang bahkan menjadi mega proyek di era kolonial.
Baca Juga: Bupati Ini Rela Rogoh Kocek Rp 1 Miliar untuk Pernikahan Putranya Seorang Pilot
Namun kondisi memprihatinkan ditemukan oleh siswa peneliti lainnya, Sofi Eriani yang meneliti cagar budaya tak jauh dari bendungan Singamerta.
Ia yang meneliti tentang cagar budaya kereta api di Banjarnegara dihadapkan pada kondisi stasiun Singamerta yang sudah rusak berat.
Stasiun dengan luas bangunan utama 281 meter persegi itu sudah mulai runtuh atapnya, bahkan temboknya dipenuhi semak belukar.
"Sangat memprihatinkan kondisinya. Bagian dalam juga lembab, dan kayu-kayu mulai lapuk, " katanya
Ia berharap pihak-pihak berwenang seperti PT KAI, Pemerintah Desa, maupun masyarakat lainnya bisa memperhatikan kondisi ini karena stasiun ini punya nilai sejarah tinggi.
Ia berharap Pemkab Banjarnegara bisa menerbitkan Perda Cagar Budaya untuk melindungi bangunan bersejarah yang banyak terdapat di Banjarnegara.
Ketua Asosiasi Guru Sejarah (AGSI) Jawa Tengah yang juga guru SMAN 1 Sigaluh Heni Purwono mengungkapkan, pihaknya sengaja membawa para siswa untuk melakukan observasi lapangan.
Dengan cara itu, mereka jadi melihat langsung permasalahan cagar budaya yang ada di kotanya.
"Kita berharap ada solusi, atau paling tidak menggugah kesadaran mereka sebagai pewaris dari objek-objek bersejarah yang ada di kota ini," harap Heni.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar
-
Transisi Energi Berwajah Hijau Jadi Modus Baru Perampasan Ruang Hidup
-
Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya
-
Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus