PURWOKERTO.SUARA.COM, KEBUMEN - Bupati Kebumen Arif Sugiyanto prihatin mendengar informasi ada salah seorang oknum kepala desa yang diduga meminta uang kepada kepala desa yang lain.
Jumlahnya dikabarkan mencapai ratusan juta. Bahkan korban yang diminta lebih dari satu.
Menurut Bupati, uang tersebut diduga diminta oleh seorang kades untuk menekan kades lain karena disebut ada masalah hukum.
Sebagian kades disebutnya ada yang memberikan, sebagian ada yang tidak memberikan karena alasan tidak punya uang.
"Saya mendengar seorang kepala desa ketika ada masalah diminta menyerahkan uang kepada kepala desa yang lain, Rp50 juta, Rp 30 juta, Rp70 juta, ada juga yang Rp100 juta,"ujar Bupati usai bertemu dengan Kades se Kabupaten Kebumen di Gedung Setda, Rabu (20/9).
"Namun yang Rp100 juta, tidak sempat diberikan karena kepala desa ini tidak punya uang, dan informasinya sudah terlanjur menyebar ke orang lain. Sementara uang yang sudah terbang Rp50 juta dan lain-lain, tentunya bisa ditindak," tambahnya.
Terhadap kejadian ini, Bupati menyebutnya dengan istilah "jeruk minum jeruk"
"Sesama Kades yang harusnya bisa berkolaborasi untuk kemajuan desa, malah justru memanfaatkan kesalahan orang lain, untuk dijadikan pundi-pundi uang," tuturnya.
Kejadian seperti itu, lanjut Bupati, sudah termasuk pidana. Sebab, sebagai pejabat pemerintah setingkat desa sekalipun, ketika menjanjikan sesuatu kepada siapapun bisa masuk pada pasal pidana.
"Apalagi ini terima duitnya," terangnya.
Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Kebumen Haedar mengimbau kepada para kades untuk tidak menyalahgunakan kewenangan. Terutama dalam hal penggunaan dana desa.
Ia menyebut sudah banyak kades dipenjara karena menyalahgunakan dana desa.
"Jadi saya himbau kepada para kades untuk bisa amanah, tidak menyalahgunakan kewenangan, dana desa harus digunakan sesuai peruntukannya untuk membangun desa, bukan untuk dikorupsi," ujarnya.
Bila ada temuan, yang mengarah kepada kerugian negara, untuk tahap awal pihaknya masih memberikan kesempatan secara persuasif untuk mengembalikan dengan batas waktu 60 hari. Namun, jika tidak diindahkan, maka bisa dilakukan penindakan.
Tag
Berita Terkait
-
Serasa Main di Eropa, Ini Lapangan Sepakbola Terdingin di Pulau Jawa Sering Diselimuti Es
-
Mudik ke Wanadadi Banjarnegara, Ebiet G Ade Punya Projek Spesial
-
Berjarak 10 Km dari Bandara Adi Soemarmo, Wisata Religi Ini Jadi Salah Satu yang Terindah Di Indonesia, Perpaduan Arsitektur Timur Tengah dan Jawa
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Apakah Pompa Air Boleh Menyala Terus? Pahami Cara Mainnya Agar Tetap Awet
-
3 HP Oppo A Series dengan Chipset Snapdragon Paling Worth It Harga Rp1 Jutaan
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung
-
10 Hari Ini Gratis, Jateng Fair 2026 Pamer Inovasi, Investasi, dan Hiburan di PRPP
-
Bayar Pajak Kendaraan di Jateng Bisa dapat Emas, Cek Daftar Pemenangnya di Sini
-
Penandaan APBD 2027: Langkah Strategis Kemendagri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya dan Gerakkan Ekonomi Daerah
-
Dendam di Era Digital: Bagaimana Cape Fear Menggambarkan Hancurnya Reputasi dengan Satu Unggahan
-
Gelombang Pengunduran Diri di Partai Buruh Berlanjut, Seluruh Pengurus DIY Kompak Pamit