Suara.com - Organisasi Muhammadiyah dikenal memiliki pandangan terbuka terkait talfiq, yaitu penggabungan beberapa pendapat dalam satu amalan syar‘i. Sebagai organisasi yang tidak terikat dengan mazhab tertentu, Muhammadiyah memperbolehkan talfiq asalkan melalui proses tarjih, yang merupakan metode analisis hukum Islam untuk menetapkan pendapat yang paling kuat.
Mengutip dari web resmi Muhammadiya, dalam Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-25 yang digelar pada tahun 2000 di Jakarta, Muhammadiyah menjelaskan bahwa talfiq dapat diterapkan dalam dua konteks, yaitu taqlid dan ittiba‘.
Taqlid merujuk pada mengikuti pendapat ulama tanpa mengetahui dalilnya, sementara ittiba‘ mengacu pada mengikuti pendapat ulama dengan memahami dalil dan argumentasinya.
Sebagai organisasi yang tidak bermazhab, Muhammadiyah menggunakan pendekatan tarjih untuk menentukan pendapat yang dianggap paling kuat.
Proses tarjih ini dilakukan oleh Majelis Tarjih, lembaga ijtihad jama‘i yang bertugas menimbang berbagai pendapat ulama dengan kompetensi ilmiah. Dengan demikian, talfiq di Muhammadiyah hanya boleh dilakukan setelah melalui kajian mendalam.
Dalam penerapannya, talfiq sering digunakan dalam persoalan ibadah. Salah satu contohnya adalah dalam bacaan basmalah saat salat. Berdasarkan keputusan Munas Tarjih ke-27 tahun 2010 di Malang, Muhammadiyah memutuskan bahwa bacaan basmalah dalam surah Al-Fatihah bisa dibaca secara sirr (pelan) maupun jahr (keras).
Muhammadiyah juga memiliki pandangan tersendiri terkait qunut subuh. Menurut Himpunan Putusan Tarjih, dalil-dalil mengenai qunut subuh tidak memenuhi kriteria sebagai hadis yang dapat dijadikan hujjah. Sikap ini memperlihatkan bagaimana Muhammadiyah berupaya mempertahankan sikap moderat dan rasional dalam menjalankan ajaran agama.
Dalam kesimpulannya, Muhammadiyah tidak melarang talfiq, tetapi mewajibkan proses tarjih yang ketat untuk memastikan bahwa setiap amalan tetap berlandaskan pada dasar hukum yang jelas dan tidak mencampurkan pendapat ulama tanpa pertimbangan. Sikap ittiba‘ dan tarjih menjadi prinsip utama dalam beragama di Muhammadiyah.
Tag
Berita Terkait
-
FH UNY Gelar PkM di MIM Tonjong, Kenalkan Pendekatan 'Deep Learning' untuk Guru Muhammadiyah
-
Viral Ketua PBNU Singgung Muhammadiyah dan Marwah Kiai NU, Ini Faktanya
-
IMM Minta Polemik Sapi Kurban Presiden Prabowo Disudahi: Tak Langgar Aturan dan Banyak Manfaatnya
-
Tata Cara Sholat Idul Adha 2026 menurut NU dan Muhammadiyah
-
SRAWUNG CAMP 2026: Menumbuhkan Kebersamaan dan Potensi Generasi Muda
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Gantung Sepatu Demi Keluarga, Eks Sprinter Asian Games Comeback di Lintasan Aspal
-
Belajar dari Kerja Praktik: Coding Terbaik Adalah yang Mampu Menyelesaikan Masalah Nyata
-
Promo Tiket Bioskop CInepolis, Khusus Nasabah BRI
-
Bahlil di Musda Golkar Sumsel: Migas dan Batu Bara Jangan Terus Ditentukan dari Jakarta
-
Remaja 14 Tahun Jadi Aktor Pembunuhan Berencana, Jasad Korban Dibakar
-
Melihat Dunia Lagi Setelah Kornea Rusak, Ini Revolusi Teknologi Transplantasi Mata Modern
-
Dulu Hidup di Sepanjang Sungai Musi, Kini Tembang Batanghari Sembilan Terancam Hilang
-
Menko Djamari Bela Program Pemerintah, Sebut Ada Banyak Akun 'Potong Video' di Medsos
-
Mengenal Desa Kemiren: Menjaga Budaya Osing Bersama Desa Sejahtera Astra
-
Manfaat Rutin Baca Al Fatihah dan Puasa Weton Anak Menurut Ulama Gus Iqdam