/
Sabtu, 22 Oktober 2022 | 15:43 WIB
Rizky Billar dan Lesti Kejora (ANTARA)


Dalam kondisi seperti inilah wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga seolah tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya bisa memendam perasaannya. Karena bisa saja korban berpikir jika dia melaporkan kekerasan yang dialami, bagaimana nanti ia dan anak-anaknya akan meneruskan kehidupan. 

Beban berlapis ini juga bisa terjadi karena culture masyarakat.

Dalam video yang diunggah di akun youtube nya itu, Gitasav menilai masih banyak masyarakat yang menganggap perceraian adalah sebuah aib. Karena itu lah wanita yang mengalami masalah kekerasan dalam rumah tangga enggan untuk berpisah karena takut dikucilkan oleh masyarakat sekitar.


Ia juga menambahkan bahwa adanya normalisasi hubungan toxic juga menjadi pemicu sulitnya seseorang keluar dari hubungan yang tidak sehat.


Seorang istri yang berada dalam suatu hubungan toxic bisa saja mengurungkan niatnya untuk berpisah karena alasan ini. Dalam kondisi ini korban biasanya dituntut untuk menahan apapun kondisi yang terjadi dalam suatu permasalahan rumah tangga. Terlebih lagi jika sudah memiliki anak.


Anak merupakan alasan terbesar seorang istri untuk tidak berpisah dengan suaminya yang bahkan telah melakukan kekerasan. Banyak seorang ibu yang tidak menginginkan anaknya tumbuh tanpa sosok seorang ayah.


Menurut Gitasav, bisa saja dikemudian hari sang suami masih berlaku kasar terhadap sang istri di depan anaknya. Hal ini bisa menyebabkan si anak trauma dan menganggap tidak adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam suatu hubungan rumah tangga.

Gita Savitri (sumber: Youtube/Gita Savitri Devi)

4. Keluar dari abusive relationship tidak selalu aman

Pada tahun 2018 di Britania Raya ada sekitar 41% perempuan yang dibunuh setelah keluar dari abusive relationship. Kebanyakan mereka dibunuh di tahun pertama mereka memutuskan untuk keluar dari hubungan tersebut.

Baca Juga: Lagi Pendekatan dengan PKS dan NasDem, AHY Optimis Demokrat Bakal Hadirkan Energi Positif Menuju Indonesia Lebih Baik

Jadi Gitasav tidak terlalu setuju jika seorang wanita yang bertahan dalam hubungan yang abusive adalah wanita yang bodoh. Karena bisa jadi posisi mereka sedang dalam bahaya. 

5. Trauma Bond

Trauma bond merupakan ikatan emosional antara pasangan walaupun pasangan merupakan seseorang yang kasar.


Jika wanita selalu mengalami penindasan dan makian dari pasangannya selama bertahun-tahun, maka harga diri dan kepercayaan diri wanita akan semakin hilang. Pengurangan harga dan kepercayaan diri inilah yang membuat wanita terus bertahan dalam abusive relationship. Mereka sudah merasa pasrah dan tidak ingin lagi berjuang.


Gitasav juga menambahkan bahwa KDRT merupakan sebuah lingkaran. Awalnya pasangan akan membangun ketegangan seperti lebih mudah untuk marah. 


Selanjutnya, pasangan akan mulai melakukan kekerasan dalam berbagai macam bentuk. Setelah melakukan fase ini, pasangan akan mulai meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Dia juga akan melakukan segala macam cara agar korban kembali mempercayainya. 

Load More