/
Senin, 24 Oktober 2022 | 08:29 WIB
Ilustrasi anak bertangan kidal. (Shutterstock)

Selebtek.suara.com - Hanya 10 persen manusia di dunia ini yang kidal. Sayangnya, meski persentasenya kecil, 40 persen kasus penyakit mental berasal dari orang kidal.

Para ilmuwan tidak yakin mengapa penyakit mental memiliki peluang lebih tinggi untuk bermanifestasi pada orang kidal, tetapi mereka percaya itu bisa secara langsung terkait dengan cara kerja otak mereka.

Kenapa orang bisa kidal?

Ilustrasi tangan kidal. (Shutterstock) (sumber:)

Penyebab kidal di otak bermuara pada beberapa kemungkinan. Contohnya seperti gen atau bahkan stresor lingkungan dapat menyebabkan "otak kidal". 

Otak kita bergantung pada proses yang disebut lateralisasi, yang memungkinkan tubuh menciptakan area "keahlian." Pemisahan ini memungkinkan pemrosesan yang lebih efisien. Jika terbiasa menggunakan tangan kiri, maka seseorang akan mahir dengan tangan kirinya, begitupun sebaliknya.

Sementara penelitian terbaru tentang genetika yang penting untuk perkembangan otak telah menunjukkan bahwa gen tertentu berhubungan dengan kidal. Namun, gen-gen itu mungkin juga berperan dalam mengapa orang kidal mengalami penyakit mental yang lebih parah.

Tidak terbukti

Conor McGregor - kidal (sumber: AFP/John Gurzinski)

Tuduhan orang kidal lebih mudah terserang penyakit mental baru sebatas hipotesis. Seperti yang dicatat oleh Big Think dalam sebuah laporan, teori-teori ini tidak terbukti, dan mungkin ada alasan lain di balik mengapa orang kidal mengalami tingkat penyakit mental yang lebih parah. 

Namun, saat ini, tampaknya beberapa stresor yang dapat menyebabkan kidal, seperti kerusakan otak yang tidak kentara atau bahkan lateralisasi otak yang lebih sedikit, dapat menyebabkan kemungkinan gangguan mental yang lebih tinggi.

Tapi itu tidak berarti bahwa menjadi kidal itu buruk. Faktanya, ada sejumlah manfaat yang dapat diandalkan oleh individu kidal, seperti peningkatan keterampilan bertarung dan bersaing. (*)

Baca Juga: Ayu Ting Ting Dibilang Cocok Dengan Boy William, Netizen: Jangan Sok Jodoh-jodohin Lagi, Gak Kapok Kelen?!

Load More