/
Rabu, 05 April 2023 | 11:43 WIB
naskah teks khutbah Jumat edisi Ramadhan berjudul Meraih Hakikat Puasa Sesungguhnya yang bisa dijadikan referensi bagi khotib. (Pixabay)

SEMARANG SUARA- Berikut ini adalah sajian naskah teks khutbah Jumat berjudul Meraih Hakikat Puasa Sesungguhnya yang bisa dijadikan referensi bagi khotib.

Naskah teks Khutbah Jumat berjudul Meraih Hakikat Puasa Sesungguhnya hanya sebagai referensi bagi para khotib saat akan membuat teks khutbah Jumat

Dilansir melalui laman suara nu.or.id berikut ini teks Khutbah Jumat yang berjudul Meraih Hakikat Puasa Sesungguhnya.

Meraih Hakikat Puasa Sesungguhnya

Khutbah I




! . : .

Hadirin Jumat Rahimakumullah

Pesan takwallah senantiasa diingatkan khatib di atas mimbar kepada dirinya sendiri dan jamaah yang hadir di tempat yang demikian mulia ini. Hal tersebut memberikan pesan bahwa takwallah adalah demikian penting. Bahwa merasa diri senantiasa dalam pantauan dan monitor Allah SWT dalam kondisi apapapun adalah penting. Hal tersebut juga sebagai garansi bahwa takwallah merupakan bekal penting dalam kehidupan harian muslimin dan muslimat.

Jamaah yang Berbahagia

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat Singkat Berjudul "Keutamaan Istigfar" Motivasi Bagi Kaum Muslimin

Tidak terasa, saat ini kita telah berada pada Jumat pertama dari syahrillah, syahrin mubarak, yaitu bulan Ramadhan. Bulan mulia ini adalah satu-satunya bulan dalam sistem penanggalan hijriah yang disebut dalam Al-Qur’an. Ketika Nabi Muhammad SAW menjelaskan kemuliaan Ramadhan, maka beliau bersabda:


Artinya: Ramadhan adalah bulan Allah. Keutamaannya dibanding bulan-bulan lain adalah bagaikan keutamaan Allah dibanding dengan makhluk-Nya. (Syekh Nashr ibn Muhammad as-Samarqandi, Tanbihu-l Ghafilin fi Ahaditsi Sayyidi-l Anbiyai wal Mursalin, Daru-l Kutubi-l Ilmiyyah, halaman: 186)

Dalam satu kesempatan ketika ketika Ramadhan tiba, Rasulullah menyampaikan kepada para sahabat pesan berikut ini:


Artinya: Ramadhan telah tiba. Seandainya para hamba Allah mengetahui terhadap apa-apa yang ada dalam Ramadhan, maka umatku pasti berharap agar bulan ini tetap ada selama setahun penuh. (Syekh Nashr ibn Muhammad as-Samarqandi, Tanbihu-l Ghafilin fi Ahaditsi Sayyidi-l Anbiyai wal Mursalin, halaman: 186).

Membahas Ramadhan, maka tak bisa lepas dari membahas salah satu rukun Islam, yaitu puasa, yang diwajibkan pada seluruh orang beriman yang telah memenuhi syarat wajibnya. Puasa merupakan ibadah yang sangat mulia sebab pahala yang diperoleh langsung diberikan oleh Allah tanpa perlu ditanyakan jumlah lipat-gandanya. Allah berfirman dalam hadits qudsi: Setiap kebaikan yang dilakukan anak Adam akan dilipatgandakan dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat kecuali puasa, sebab puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya kepada orang-orang yang telah menahan syahwat, makan, dan minum karena-Ku. Puasa adalah perisai. Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika berjumpa dengan Rabb-nya pada hari kiamat. (Syekh Nashr ibn Muhammad as-Samarqandi, Tanbihu-l Ghafilin fi Ahaditsi Sayyidi-l Anbiyai wal Mursalin, halaman: 185).

Di lain waktu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan keutamaan puasa Ramadhan sebagai berikut:

Load More