SUARA SEMARANG - Supriyanto (58) merupakan salah satu sosok yang sejak awal menjadi saksi berdirinya kerajaan Pande Besi atau Pandai Besi di Dusun Karangpoh, Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten.
Dia mendirikan usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) pada 1989 saat usianya sektar 22 tahun.
Saat itu dia bermodalkan jaminan yang diberikan orang tuanya untuk ditukar dengan modal Rp 1 juta dari Bank.
Lambat laun usaha Supriyanto sosok ayah tiga anak itu makin berkembang.
Dia berkisah pada awal berdirinya usaha 1993 mendapat orderan dari Surabaya yang meminta dalam waktu setengah bulan untuk mengirim 6.000 cangkul.
“Cuma kita keterbatasan alat hingga hanya mampu produksi 4.000 cangkul,” kata dia.
Saat ini ada kurang lebih 70-an pelaku Pande Besi di dua desa di Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, dan Dusun Karangpoh, Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten.
Sementara 40-an di antaranya tergabung dalam Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Alat Derap Laju Pande Besi dan Las (Delapan Belas) pada 1998.
Supriyanto menjelaskan proses pembuatan cangkul di bengkel dimulai dengan menyiapkan bahan-bahan yakni plat besi biasa dan plat baja.
Baca Juga: Nyala Tungku UMKM Pande Besi, Cangkul Merah Putih SNI untuk Ketahanan Pangan Negeri
Cangkul proyek sambung baja menggunakan plat besi ketebalan 2,8 mm, kemudian digambar sesuai ukuran dan dipotong. Selanjutnya ada proses las, penempaan, gerinda, hingga tahap penyelesaian atau finishing.
Di sisi lain untuk mengembangkan usaha, Supriyanto mengakui betapa pentingnya mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).
Selain untuk kemajuan bisnis UMKM miliknya juga untuk para Pande Besi lain di desanya.
Beberapa poin yang diikutinya dan memberi banyak manfaat antara lain, Pelatihan Basic Mentality, Pelatihan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin), Pelatihan Pengetahuan Material dan Teknik Tempa, Pelatihan Gambar Teknik, Pelatihan Design Proses, Pelatihan Pengukuran, Pelatihan Dinamika Kelompok, Pelatihan Cost Calculation dan Pembukuan Sederhana, serta program lainnya.
Dengan tempat yang rapih dan rajin misalnya, akan membuat lokasi usaha enak dipandang serta mengurangi risiko kecelakaan kerja.
“Basic mentality, saya pikir-pikir memang betul, kalau perajin dididik mental kalau ada badai Insya Allah akan lebih kuat. Saya masih eksis produksi alat-alat pertanian. Memang istilahnya dengan pendampingan betul-betul membuka wawasan kita,” kata Supriyanto.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
Terkini
-
Jika Gaji Rp 8 Juta Masuk Kategori MBR, Apa Kabar Karyawan yang Mentok UMR?
-
PDIP Kritik Pernyataan Prabowo soal Demo Bayaran, Dinilai Bernada Ancaman ke Rakyat
-
4 Pilihan Cushion Mini, Solusi Praktis Touch-Up di Mana Saja
-
Ace Hardware Dipastikan Kembali Buka di Indonesia
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Aliran Gratifikasi Proyek Rp17 Miliar
-
Perhatian Pemegang Saham GGRM, Dividen Rp800 per Saham Cair 23 Juli 2026
-
Rupiah Menguat Seiring Kembalinya Investor Asing
-
Gojek Luncurkan Fitur Jalan Jajan di Aplikasi, Permudah Wisata dan Kuliner Saat Libur Sekolah 2026
-
Krisis Dokter di Pelosok, Legislator DPR Usul Pemerintah Pakai AI Jadi Solusi Darurat
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi