/
Sabtu, 30 September 2023 | 00:57 WIB
Proses penyepuhan lempengan pelat besi dan baja untuk menjadi cangkul proyek di Bengkel Pande Besi UMKM UD Arum Sari binaan Astra melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Senin 25 September 2023 (Diaz Abidin/Suara Semarang)

SUARA SEMARANG - Supriyanto (58) merupakan salah satu sosok yang sejak awal menjadi saksi berdirinya kerajaan Pande Besi atau Pandai Besi di  Dusun Karangpoh, Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten.

Dia mendirikan usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) pada 1989 saat usianya sektar 22 tahun.

Saat itu dia bermodalkan jaminan yang diberikan orang tuanya untuk ditukar dengan modal Rp 1 juta dari Bank.

Lambat laun usaha Supriyanto sosok ayah tiga anak itu makin berkembang.

Dia berkisah pada awal berdirinya usaha 1993 mendapat orderan dari Surabaya yang meminta dalam waktu setengah bulan untuk mengirim 6.000 cangkul.

“Cuma kita keterbatasan alat hingga hanya mampu produksi 4.000 cangkul,” kata dia.

Tiga orang pekerja mnyelesaikan proses penempaan lempengan pelat besi untuk menjadi cangkul proyek (sumber: Diaz Abidin/Suara Semarang)

Saat ini ada kurang lebih 70-an pelaku Pande Besi di dua desa di Dukuh Karangpoh, Desa Padas, Kecamatan Karanganom, dan Dusun Karangpoh, Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten.

Sementara 40-an di antaranya tergabung dalam Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Alat Derap Laju Pande Besi dan Las (Delapan Belas) pada 1998.

Lempengan pelat besi sesudah proses mal dan menunggu proses penempaan, pengelasan dengan plat baja, pengepresan dan lainnya (sumber: Diaz Abidin/Suara Semarang)

Supriyanto menjelaskan proses pembuatan cangkul di bengkel dimulai dengan menyiapkan bahan-bahan yakni plat besi biasa dan plat baja.

Baca Juga: Nyala Tungku UMKM Pande Besi, Cangkul Merah Putih SNI untuk Ketahanan Pangan Negeri

Cangkul proyek sambung baja menggunakan plat besi ketebalan 2,8 mm, kemudian digambar sesuai ukuran dan dipotong. Selanjutnya ada proses las, penempaan, gerinda, hingga tahap penyelesaian atau finishing. 

Ruang pengelasan yang tampak rapih dan ringkas sesuai program 5R dari YDBA (sumber: Suara Semarang/Diaz Abidin)

Di sisi lain untuk mengembangkan usaha, Supriyanto mengakui betapa pentingnya mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).

Selain untuk kemajuan bisnis UMKM miliknya juga untuk para Pande Besi lain di desanya.

Beberapa poin yang diikutinya dan memberi banyak manfaat antara lain, Pelatihan Basic Mentality, Pelatihan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin), Pelatihan Pengetahuan Material dan Teknik Tempa, Pelatihan Gambar Teknik, Pelatihan Design Proses, Pelatihan Pengukuran, Pelatihan Dinamika Kelompok, Pelatihan Cost Calculation dan Pembukuan Sederhana, serta program lainnya.

Proses pengelasan pelat besi disambung dengan pelat baja (sumber: Suara Semarang/Diaz Abidin)

Dengan tempat yang rapih dan rajin misalnya, akan membuat lokasi usaha enak dipandang serta mengurangi risiko kecelakaan kerja.

“Basic mentality, saya pikir-pikir memang betul, kalau perajin dididik mental kalau ada badai Insya Allah akan lebih kuat. Saya masih eksis produksi alat-alat pertanian. Memang istilahnya dengan pendampingan betul-betul membuka wawasan kita,” kata Supriyanto.

Load More