Serang.suara.com - Hadapi bencana sekaligus dampak badai El Nino, India produsen beras nomor satu di dunia setop ekspor beras.
Ancaman kelaparan dan kekeringan akan mengintai sejumlah negara termasuk Indonesia, yang menyediakan cadangan beras pemerintah melalui Perum Bulog, dengan mengimpor 300 ton beras CBP.
Informasi setop ekspor beras di India telah diumumkan, Kamis (20/7/2023) kemarin malam, dampak dari larangan ekspor beras mengancam pangan global termasuk inflasi.
Pemerintah India menyetop ekspor beras non-basmati, setelah kenaikan harga terjadi di angka 3 persen per bulan. Bukan itu saja, beberapa daerah di India alami gagal panen. Daerah seperti Haryana dan Punjab sebagai pusat penghasil beras juga gagal panen.
Sementara kita ketahui bersama bahwa selain India sebagai eksportir beras dengan persentase 40 persen, beberapa negara tetangga Indonesia seperti Vietnam dan Thailand juga termasuk produksi beras terbanyak.
Kondis di India saat ini beberapa daerah sebagai sumber padi dan beras sedang menanam ulang tanaman padi mereka.
"Ini merupakan kebijakan ekspor," kutip Serang Suara via laman Kementerian Pertanian India, Jumat (21/7/2023).
Adapun harga beras India dibanderol dari harga biasanya, yang kenaikannya sudah berada di level 11,5 persen. Berdasar catatan mereka di tahun 2022, India telah melakukan ekspor beras jenis non-basmati dan pecah sebanyak 10 juta ton dari 22 juta ton dari nilai total ekspor.
Sementara ekspor beras jenis pratanak di tahun yang sama mencapai 7,4 juta ton, dan memang beras ini tidak termasuk dalam larangan pemerintah India.
Baca Juga: El Nino Intai Indonesia dan 300 Ribu Ton Beras Disiapkan Sebagai Cadangan
Perdana Menteri Narendra Modi kepada media mengutarakan, bahwa negaranya melarang atau setop ekspor beras sebagai langkah bagi pemerintah dalam negeri dalam mengatasi inflasi pangan, serta situasi politik di 2024.
Selain beras, Perdana Menteri Narendra Modi juga menerangkan, kalau mereka juga menyetop pengiriman ekspor gandum, setelah stop ekspor beras September 2022.
"Ekspor gandum juga akan kami larang di tahun ini," jelas Modi.
Selain sebagai cadangan menghadapi bencana El Nino, kebijakan pemerintah India tersebut juga mengguncang harga beras dunia.
Bahkan efeknya lebih kencang dari pada situasi perang antara Ukraian dan Rusia, yang belum lama ini Rusia menyetop partisipasi biji bijian Laut Hitam, lantaran jembatan Krimea kena Serang.
Presiden Asosiasi Eksportir Beras B.V. Krishna Rao mengaku, dampak dari kebijakan India setop ekspor beras dan gandum menganggu pasar dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Nasib Ratusan Siswa SMA di Sumsel Terancam, Ombudsman Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB
-
BI Sumsel Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Digital Lewat Gemilang Palembang Raya x DKG 2026
-
AFC Ajax Boyong Marc-Andre ter Stegen, Maarten Paes Dibuang?
-
Duka Mendalam Klub Juara Liga Champions untuk Korban Gempa Venezuela
-
Mengapa Dokumen WDP Jadi WTP Dicari KPK? Fakta Baru dari Penggeledahan BPK Sumsel
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Sore di Pantai, Berburu Produk Lokal hingga Menikmati Musik di WKND Market PIK2
-
Sudah Bayar Rp128 Juta, Rumah Tak Kunjung Dibangun, Konsumen Lapor Polda Sumsel
-
Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026