/
Jum'at, 14 Oktober 2022 | 17:09 WIB
Tragedi Paiton (facebook)

SuaraSoreang.id - Kecelakaan maut yang terjadi 19 tahun silam, tepatnya pada tanggal 8 Oktober 2003 menjadi salah satu tragedi memilukan dalam sejarah transportasi di Indonesia.

Disebut dengan nama tragedi paiton karena kecelakaan ini terjadi di dekat PLTU Paiton, tepatnya di Jalan Raya Kecamatan Banyuglugur antara Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Probolinggo.

Bus pariwisata ini berisikan 51 orang siswa/siswi Yapemda 1 Sleman, Yogyakarta, bersama dengan dua guru dan satu pemandu wisata yang hendak kembali pulang dari karyawisata di Bali.

Berikut ulasan terkait kecelakaan maut ini yang telah kami rangkum dari Suara.com

Kronologis kecelakaan

Tempat terjadinya kecelakaan merupakan sebuah jalan yang cukup tinggi. Sementara itu, sisi kiri dan kanannya berupa bukit dan tanaman liar yang sepi.

Kronologis kecelakaannya, bus pariwisata yang berisikan para pelajar itu  ditabrak oleh truk container yang memotong jalur dari arah berlawanan dan menabrak bagian depan bus. Tak tanggung-tanggung, bagian belakang bus pun dihantam truk tronton.

Tangki truk tronton pun pecah, sehingga menimbulkan percikan api yang akhirnya merember ke badan bus. Seluruh penumpang yang ada di dalam bus terbakar, kecuali kernet dan sopir bus berhasil menyelamatkan diri.

Kondisi di dalam Bus

Baca Juga: Lebih Seram dari Covid-19, Ini 5 Wabah Paling Mematikan di Dunia, 500 Juta Orang Meninggal

Kebakaran yang merembet begitu cepat pada bus diduga karena banyaknya bahan-bahan mudah terbakar di dalam bus, seperti tas dan karpet.

Korban yang tewas banyak ditemukan di bagian belakang bus. Para saksi menduga para penumpang tersebut berusaha ke luar melalui pintu belakang yang justru tidak bisa terbuka.

Di dalam bus tidak dilengkapi alat pemecah kaca, yang mengakibatkan para penumpang tidak bisa menyelamatkan diri ketika bus terbakar. Berbeda dengan kernet dan sopir yang berhasil menyelamatkan diri dengan melompat dari bus juga memecah kaca bagian depan bus.

Proses Evakuasi

Banyaknya jumlah korban yang meninggal mengakibatkan pihak RSUD Situbondo terpaksa harus mengawetkan para jenazah menggunakan balok es.

Jenazah juga ditempatkan di Lorong rumah sakit dikarenakan ruang kamar mayat yang tidak terlalu besar.

Keadaaan jenazah mengalami luka bakar serius, bahkan ada bagian tubuh yang hilang, membuatnya sulit untuk dikenali.

Demikian beberapa fakta terkait Tragedi Paiton yang menjadi salah satu peristiwa kelam bagi transportasi Indonesia. Semoga para korban tenang di sisi-Nya.

Kontributor: Shafa Maura Zahwa

Load More