/
Selasa, 18 Oktober 2022 | 17:10 WIB
Lesti Kejora (Suara.com/Oke Atmaja)

SuaraSoreang.id-Babak akhir perjalanan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) Rizky Billar, masih menjadi perbincangan hangat dan sorotan publik.

Pasalnya ending dari kasus KDRT Rizky Billar terhadap Lesti Kejora ini berujung anti klimaks dengan jalan perdamaian.

Lesti Kejora secara mengejutkan mencabut pelaporan kasus KDRT dirinya di tengah Rizky Billar telah menjadi tersangka dan dalam proses penahanan.

Sontak, keputusan Lesti Kejora memaafkan dan mencabut laporan KDRT yang dilakukan Rizky Billar, disayangkan banyak pihak.

Banyak argumen yang beredar dengan dugaan-dugaan lain bahwa Lesti Kejora melakukan pencabutan laporan KDRT Rizky Billar itu berdasarkan paksaan.

Dilain sisi, Pakar Ekspresi Wajah, Kirdi Putra melihat Lesti Kejora masih ada ketakutan dan kesedihan di wajah Lesti Kejora saat dihadapan awak media ketika menyampaikan terkait pencabutan Laporan kasus KDRT Lesti Kejora.

Menurut Kirdi, tidak ada perubahan berarti dalam ekspresi wajah Lesti Kejora. Bahkan ia belum melihat ekspresi tegar.

"Enggak (tegar), masih sama wajah Lesti saat press conference itu antara sedih dan takut, di antara dua itu," ujar Kirdi dilansir dari Suara.com pada 18 Oktober 2022.

Kirdi membandingkan ekspresi wajah Lesti saat sedang santai dan tidak ada paksaan, dengan kondisi setelah ia mencabut laporan KDRT yang dilakukan suaminya.

Baca Juga: Presiden FIFA dan Jokowi akan Kaji Kelayakan Stadion di Indonesia Jelang Piala Dunia U20

Pengamata itu dilakukan khususnya pada bagian alis Lesti saat santai tidak ada kerutan dan lebih rileks.

"Jadi ketika dia sedih ada tarikan bibir ke arah bawah. Saat santai alisnya lebih rileks, saat dia takut itu memandang dengan tatapan alis agak mengkerut gitu," jelasnya.

Berbeda dengan ketika Lesti saat memberi keterangan dihadapan awak media.

"Dan dia pegang tangan bapaknya, kanan kiri bibirnya itu menegang, jadi antara takut sama sedih itu masih ada," sambung Kirdi.

Lanjut, menurut Kirdi jadi korban KDRT tidaklah mudah, karena trauma atas kekerasan yang diterima dari pelaku tidak mudah hilang dan butuh waktu lama untuk pulih, bahkan hingga bertahun-tahun.

"Kalau di beberapa negara maju, beberapa kejahatan itu pihak korban diminta untuk berkonsultasi dulu dengan pihak kompeten, dalam hal ini psikolog. Pelaku juga diminta untuk handle manajemen emosi, dengan psikolog dan psikiater," ujarnya.

Load More