Bahkan setelah selesai melakukan puasa secara keseluruhan, masih ada yang harus dilakukan sebagai rutinitas sehari-hari yang harus dibaca setiap 3 kali sesudah shalat wajib.
Patih Jojo Digdo sebelum diangkat menjadi Patih dikenal sebagai sosok yang suka melakukan lelakon dan suka berpuasa. Hingga memiliki berbagai ilmu kanuragan dan kesaktian yang mampu ia kuasai.
Diketahui, Jojo Digdo ini diwariskan ilmunya oleh gurunya yang sudah wafat. Bahkan, gurunya dikatakan bukan berasal dari manusia saja melainkan datang dari bangsa lelembut atau bangsa jin.
Jojo Digdo adalah sahabat sekaligus pengikut pangeran di Ponegoro. Ia memiliki keturunan darah biru atau trah ningrat dari kerajaan Mataram. Karena ia adalah putra dari Adipati Kulon Progo.
Kesaktian gurunya ini juga teruji pada saat peperangan antar Belanda melawan Pangeran di Ponegoro. Jojo Digdo yang dulu masih berusia 30 tahun dan ikut melakukan perlawanan dan ikut melakukan perang Gerilya meskipun pada saat itu Pangeran Diponegoro sudah ditangkap dan diasingkan.
Jojo Digdo ditakuti oleh Belanda karena kesaktian pancasonanya yang sudah ia kuasai. Ia juga beberapa kali hidup kembali setelah usai dieksekusi oleh Belanda.
Berkat kesaktiannya, ia terkenal. Hingga Adipati Blitar memberinya gelar Patih dan hadiah sebidang tanah di jalan Melati di Kota Blitar yang ia buat membangun rumah besar bersama keluarganya yang ia namai Pesanggrahan Jojo Digdo.
Hingga saat ini, rumah itu masih berdiri kokoh.
Jojo Digdo yang dikenal memiliki ilmu pancasona pun akhirnya wafat pada tahun 1909 di usia 82 tahun dengan masih memiliki ilmu pancasona.
Diketahui, orang yang memiliki ilmu ini bisa menjadi orang yang kekal bahkan bertahan hidup sampai kiamat selama ia masih menginjak tanah.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Folk Horror sebagai Tontonan HALLOWEEN
Seseorang yang memiliki ilmu pancasona agar wafat tubuhnya harus dipisah menyeberangi sungai dan digantung tidak menyentuh tanah. Jika jasadnya menyentuh tanah, maka potongan yang terputus akan bersatu dan hidup kembali.
Eyang Jojo Digdo diketahui pernah meninggal 3 kali sehari. Menurut Lasiman Juuru kunci makan di lokasi makam gantung mengatakan bahwa pada saat dikuburkan tubuhnya menyentuh tanah, ia bangkit dan hidup kembali.
Supaya Jojo Digdo tidak hidup lagi, jasadnya dimasukan kedalam peti besi dengan patiyang dengan tinggi 50cm. Dengan 4 pati yang digunakan sebagai penyimpanan pusaka dan baju perang milik sang patih. Maka dari itulah sejarah disebutnya makam gantung.
Jika ada ilmu putih, maka pasti ada ilmu hitam atau yang disebut dengan Rawa Rontek yang berarti kepala putus.
Orang yang dipercaya memiliki ilmu Rawa Rontek tidak dapat dibunuh dengan senjata tajam, senjata api, racun bahkan sihir. Melainkan hanya bisa mati karena sakit.
Ilmu Rawa Rontek sangat jarang bisa dikuasai dan mantranya saja hanya sedikit yang tahu.
Ilmu Rawa Rontek menjadi ilmu yang sangat populer dan legendaris karena dimiliki oleh Si Pitung, dengan menguasai ilmu ini Pitung bisa menyerap ilmu dari lawan-lawannya.
Siapa saja yang memiliki ilmu Rawa Rontek dikatakan tidak boleh menikah sampai akhir hayatnya.
Hal itu terbukti ketika pada usia 40 tahun Pitung mati ia masih bujangan.
Beda dengan Ilmu Putih Pancasona, orang yang memiliki ilmu Hitam Rawa Rontek dikenal sebagai orang yang mudah tersulut emosi, senang berbuat kejahatan dan anarkis. Hal itu karena sel-sel tubuh dalam penganut Rawa Rontek sudah dikuasai oleh Jin.
Ilmu Rawa Rontek memiliki 3 tingkatan, yaitu rendah, menengah dan tinggi.
Tingkat rendah diketahui adalah karena Jin bersemayam didalam aura pemiliknya untuk sekadar memiliki ilmu kebal tahan pukul, bacokan dan senjata tajam.
Tingkat menengah Jin mulai mendekati ke kulit pemilikinya. Kulit akan sekeras batu karang. Hingga lebih kebal dari apapun dan tidak bisa disakiti.
Tingkat tinggi, Jin sudah memasuki sel-sel tubuh hingga mampu membangkitkan energi tenaga dalam dan mempercepat regenerasi sel.
Pada dasarnya, Jin tidak bisa masuk ke dalam tubuh karena ruh lebih kuat. Namun, bila manusia yang sudah memberikan akses maka Jin dapat bersemayam dalam tubuhnya dan mengendalikannya sehingga pada saat tubuh terpotong akan bisa tersambung kembali.
Sama halnya dengan Ilmu pancasona, kelemahan pemilik ilmu hitam Rawa Rontek tidak boleh menyentuh tanah, harus dibakar atau menyangkutkan tubuhnya diatas pohon.
Kelangkaan ilmu ini tidak bisa diturunkan kepada orang lain melainkan harus melalui syarat-syarat atau rapal mantra yang harus dilakukan sendiri.
Ilmu Rawa Rontek berbeda dengan Ilmu debus yang hanya menekankan pada tusukan, tahan panas, tahan pukul bukan harus memotong atau melepaskan dengan tulang dari bagian tubuhnya itu sendiri.
Kesaktian orang zaman dahulu memang sulit dipercaya oleh orang zaman kini. Apalagi sudah ada teknologi pesat yang menjadikannya sangat maju dan berkembang. Namun, semuanya kembali kepada keyakinannya masing-masing.(*)
Sumber:Kanal Youtube Bang Betz Illustration
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Surya Paloh Titip Masa Depan Indonesia ke Anak Muda: Tak Bisa Lagi Berharap pada Generasi Tua
-
Sempat Kabur ke Depok, Begal Driver Lalamove di Gunung Masigit Akhirnya Diringkus Polisi
-
Polresta Solo Amankan Dua Pemuda Bawa Clurit di Jebres, Ini Kronologinya
-
Pofesi HR Kini Tak Hanya Urus Administrasi, Tapi Juga Menuju Mitra Strategis Bisnis
-
Waketum PSSI Ratu Tisha Kenalkan Liga Universitas Coca-Cola di Forum PBB
-
Liburan ke Bali Sambil Nonton Festival Musik, Ini Deretan Destinasi Seru di Bali Selatan
-
Prananda Paloh Resmi Pimpin Garda Pemuda NasDem, Surya Paloh Beri Pesan Menyentuh
-
Mengapa Banyak Proyek AI di Perusahaan Indonesia Mandek? Ternyata Bukan Salah Teknologinya
-
Keluar dari 'Zona Tidak Aman', Sarwendah Pilih Tinggalkan Rumah Gono-gini Ruben Onsu
-
Sambut Minat Besar Investor, PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang untuk Akselerasi Proyek PSEL