/
Senin, 20 Februari 2023 | 21:34 WIB
Harun Masiku [website KPK]. Harun Masiku diungkit kader Partai Demokrat. PDIP Sindir SBY soal ubah sistem pemilu, (website KPK)

SuaraSoreang.id - Jelang pemilihan umum (pemilu) 2024, elite Partai Demokrat dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) saling sindir soal sistem pemilu terbuka dan tertutup.

Bahkan satu di antara elit kedua partai saling sindiri soal sosok Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan juga tersangka Harun Masiku yang hingga saat ini belum bisa ditangkap.

Sindiran Hasto

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto awalnya menanggapi pernyataan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).  

Dikatakan Hasto, Presiden ke-6 RI itu diminta mengingat kembali jika di eranya yakni pada 2008, juga pernah mengubah sistem Pemilu dari tertutup menjadi terbuka. 

Dalam pandangan orang dekat Megawati ini, apa yang dilakukan rezim SBY hanya untuk mendongkrak kemenangan Partai Demokrat.

Dibalas Wasekjen Demokrat

Rupanya apa yang dikatakan Hasto langsung direspon Wakil Sekretaris Jendetal Partai Demokrat, Irwan Fecho.

Anak buah AHY ini membalas sindiran Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto kepada Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) perihal sistem Pemilu proporsional terbuka dan tertutup.

Baca Juga: Akui Bobotoh adalah Sumber Kekuatan Persib, Erwin Ramdani Siap Maksimalkan 10 Pertandingan yang Tersisa

Irwan mengatakan jika Hasto dinilai ngotot ingin mengubah sistem Pemilu kembali menjadi proporsional tertutup.

"Saya curiga Hasto ngebet sekali dorong proporsional tertutup karena dia sangat trauma dengan kasus Harun Masiku," kata kata Irwan dalam keterangannya seperti dikutip dari suara.com pada Senin (20/2/2023).

"Dia bahkan nggak bisa bedakan mana kehendak rakyat, mana kehendak elite. Pesan Pak SBY jelas sekali, tanya dulu kehendak rakyat!" katanya. 

Kemudian Irwan menegaskan kembali terkait apa alasan kuat untuk mengubah sistem Pemilu saat ini.

"Itu yang ditanyakan Pak SBY. Harusnya fokus jawab itu." 

"Bukan justru membandingkan perubahan sistem Pemilu di 2008." 

Load More