SUARA SOREANG - Usai skandal selingkuh, Rendy Kjaernett dan Lady Nayoan memilih untuk rujuk, menyusul Syahnaz Sadiqah dan Jeje Govinda yang kerap memperlihatkan kemesraan di media sosial.
Namun, seorang peramal dengan akun Instagram @titisannyairatukidul_ memiliki pandangan yang berbeda.
Peramal tersebut membandingkan kedua pasangan ini dalam terawangannya.
Menurutnya dari dua pasangan selebritis tersebut, salah satunya hanya berpura-pura terlihat bahagia.
Sang peramal juga menuliskan bahwa salah satu dari dua pasangan ini akan bercerai meski bukan karena kasus ini.
Ramalan yang diunggah ulang di akun Instagram @lambe_danu ini pun mendapat sorotan warganet.
Ikut campurnya peramal dalam skandal artis bukan kali ini saja.
Setiap kontroversi rumah tangga selebritis, peramal akan ada untuk memberi pandangan.
Lantas, mengapa orang Indonesia masih percaya pada ramalan?
Baca Juga: Momen Grace Natalie 'Rayu' Budiman Sudjatmiko Main Ke Kantor PSI: Ukuran Jaketnya Berapa Mas?
Melansir berbagai sumber, orang Indonesia masih percaya pada ramalan karena beberapa alasan, di antaranya:
1. Keyakinan pada keberadaan dunia gaib dan kekuatan supranatural
Dilansir dari laman Jhu, beberapa orang Indonesia masih mempercayai adanya dunia gaib dan kekuatan supranatural yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia.
Hal ini tercermin dalam kepercayaan pada dukun, paranormal, dan berbagai praktik spiritual lainnya
2. Ketakutan akan ketidakpastian masa depan
Laman TFR menyebut, ramalan seringkali dianggap sebagai cara untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan dan mengatasi ketidakpastian tersebut.
Orang Indonesia yang masih percaya pada ramalan mungkin merasa lebih tenang dan siap menghadapi masa depan jika mereka memiliki gambaran tentang apa yang akan terjadi
3. Efek Barnum atau Forer
Efek Barnum atau Forer adalah fenomena psikologis di mana orang cenderung menerima pernyataan-pernyataan yang sebenarnya tidak spesifik, seperti kalimat-kalimat ramalan, untuk menggambarkan dirinya secara pribadi.
Hal ini dapat membuat orang Indonesia yang masih percaya pada ramalan merasa bahwa ramalan tersebut sangat akurat dan relevan dengan kehidupan mereka
4. Pengaruh budaya dan tradisi
Di Indonesia, kepercayaan pada ramalan dan praktik-praktik spiritual lainnya telah ada sejak lama dan menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat.
Hal ini dapat membuat orang Indonesia yang masih percaya pada ramalan merasa bahwa praktik-praktik tersebut memiliki nilai dan kebenaran yang tinggi. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Geger Spanduk 'Tangkap Jokowi' Bertebaran di Lebak Jelang Kunjungan ke Banten
-
Karhutla Sumsel Terus Meluas, Mengapa Muba dan Ogan Ilir Jadi Titik Terparah?
-
Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan
-
Dakwaan Dibatalkan Hakim, Jaksa Kembali Limpahkan Perkara dr Tifa ke PN Jakarta Timur
-
HKBP Perkuat Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan
-
Resmi Dihibahkan ke Pemprov Jabar, Teras Cihampelas Bandung Bakal Dibongkar Total
-
Hilirisasi Sawit RI Diklaim Sukses, 80% Ekspor Tak Lagi Produk Mentah
-
5 Fakta Kapal Jukung Terbakar di Sungai Musi, Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki
-
Bakery Singapura BIdik Pasar Kuliner RI, Ekspansi Perdana ke Jakarta
-
BGN Enggan MBG Dibenturkan dengan Sekolah Roboh: Enggak Nyambung