Suara.com - Juara bertahan Novak Djokovic berhasil menjinakan perlawanan sengit petenis Kanada Denis Shapovalov untuk melaju ke final Wimbledon 2021.
Dalam pertandingan di All England Lawn Tennis & Croquet Club, London, Novak Djokovic menghajar Shapovalov lewat kemenangan 7-6(3), 7-5, 7-5.
Di babak final, petenis berusia 34 tahun asal Serbia itu akan bertemu dengan petenis Italia Matteo Berrettini pada Minggu (11/7/2021).
Hasil itu sekaligus memupuskan harapan Shapovalov unggulan ke-10 yang berupaya menjadi petenis kedua dari Kanada yang mencapai final Wimbledon.
Shapovalov melancarkan 40 pukulan winner tetapi manakala Djokovic mendapati dirinya dalam bahaya, ia mampu bertahan, menyelamatkan 10 dari 11 break point yang ia hadapi.
Djokovic juga hanya membuat 15 unforced error demi menjaga asa mengejar titel Grand Slam ke-20, menyamai rekor Roger Federer dan Rafael Nadal.
Djokovic memenangi set pembuka meski Shapovalov serve ketika kedudukan 5-4 dan kemudian menyelamatkan sejumlah break point di set kedua saat sang lawan mengerahkan segala upaya untuk menundukkan peraih lima titel di All England Club itu.
Kendati di set ketiga Shapovalov terus melancarkan pukulan keras tetapi tembakannya dimentahkan saat Djokovic mengklaim salah satu kemenangan straigth set terberat dalam karier Wimbledonnya.
Shapovalov meninggalkan lapangan dengan berurai air mata tetapi ia telah memperlihatkan kemampuannya yang menandakan ia siap menantang turnamen-turnamen besar di dunia tenis.
Baca Juga: Wimbledon 2021: Barty Singkirkan Rekan Senegara untuk Melaju ke Semifinal
"Saya tidak merasa skor itu cukup mencerminkan performa atau pertandingan ini," kata Djokovic seperti dikutip AFP.
"Dia (Shapovalov) melakukan serve untuk set pertama dan mungkin pemain yang lebih baik."
"Saya akan memberinya tepuk tangan meriah untuk semuanya yang telah dia lakukan hari ini dan juga dua pekan ini. Kita akan sering melihat dia di masa depan, dia adalah pemain luar biasa."
Apabila meraih titel di Wimbledon, Djokovic tinggal butuh kemenangan di US Open untuk menjadi petenis ketiga dalam sejarah, dan pertama sejak 1969, yang melengkapi kalender Grand Slam.
Djokovic juga memiliki peluang melengkapi Golden Slam apabila ia menang di Olimpiade nanti.
"Saya mencoba memaksimalkan kemampuan saya di setiap pertandingan dan melihat apa yang terjadi," kata Djokovic.
"Di tahap karier saya sekarang, Grand Slam adalah segalanya dan saya merasa sangat terhormat membuat sejarah di olahraga yang sangat saya cintai ini."
Shapovalov yang bermain kidal tak menunjukkan tanda-tanda gugup kendati tampil di semifinal pertama Grand Slamnya dan dengan bekal rekor 0-6 melawan petenis nomor satu dunia itu.
Mengandalkan backhand dan forehand ke garis, dia mendominasi set pertama setelah membuat break di gim ketiga dan serve untuk ketika 5-4.
Ia hampir mengunci set pembuka tapi sayangnya ia tak terlalu memiliki naluri seperti seorang juara Grand Slam.
Sejumlah groundstroke yang lemah memungkinkan Djokovic menyamakan kedudukan dan mengambil alih tiebreak setelah memenangi reli baseline dengan skor 4-2.
Shapovalov mengakhiri set tersebut dengan double fault.
Shapovalov gagal mengambil lima break point di set kedua dan Djokovic membalas. Dia membuat break untuk 6-5 berkat double fault dan mengamankan set tersebut sebelum sang petenis Kanada melampiaskan kekesalannya kepada wasit dan melabeli sang ofisial sebagai "lelucon".
Djokovic menunjukkan pertahanan khasnya untuk menangkis empat break point lagi di gim kedua set ketiga.
Sekali lagi, dia membuat pemain kidal Kanada itu membayar dengan melakukan break untuk 6-5 dan melakukan servis pada gim berikutnya.
"Novak orang yang luar biasa... Ia mendatangi saya di ruang loker, dia berbicara sejumlah kata. Bagi saya itu sangat berarti. Dia tak perlu melakukan itu sebenarnya," kata Shapovalov, demikian dilansir dari Antara.
Tag
Berita Terkait
-
Hajar Sabalenka, Pliskova Melaju ke Final Wimbledon untuk Pertama Kalinya
-
Untuk Pertama Kali, Ashleigh Barty Melenggang ke Final Wimbledon
-
Dipecundangi Hurkacz, Mimpi Roger Federer Rengkuh Sembilan Kali Juara Wimbledon Sirna
-
Bungkam Fucsovics, Novak Djokovic ke Semifinal Wimbledon 2021
-
Top 5 Sport: Ons Jabeur, Petenis Wanita Arab Pertama ke Perempat Final Wimbledon
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Israel Bombardir Kantornya di Teheran, Keberadaan Imam Ali Khamenei Masih Misterius
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
Terkini
-
Waspadai Wakil China, Tiwi/Fadia Tekad Kurangi Error di Semifinal German Open 2026
-
Lolos ke Semifinal, Gloria Emanuelle Widjaja Bertekad Akhiri Kutukan Runner-up di German Open 2026
-
Proses Bangun Chemistry Berlanjut, Apriyani/Lanny Petik Pelajaran Berharga di German Open 2026
-
Marco Bezzecchi Jadi yang Tercepat di FP1 MotoGP Thailand 2026
-
DPR Bereaksi! Kawal Kasus Pelecehan Atlet Panjat Tebing dan Dukung Langkah Kemenpora
-
Lindungi Atlet, Ketua Umum FPTI Pastikan Bakal Tangani Laporan akan Ditangani Serius
-
Marc Marquez Antusias Hadapi Balapan Seri Perdana MotoGP 2026
-
Janice Tjen Berhasil Melaju ke Semifinal Ganda Merida Open 2026
-
Aroma Indonesia di Gresini Racing, Ducati Desmosedici GP26 Dapat Sentuhan Bold Riders
-
Percaya Diri Hadapi Wakil Jerman, Amri/Nita Incar Awal Manis di All England