/
Jum'at, 09 September 2022 | 15:00 WIB
Ilustrasi nelayan. (anwar siak/flickr)

Sukabumi.suara.com – Hampir sepekan kenaikan BBM yang terjadi pada Sabtu (3/9/2022) lalu, imbas merugikan yang dirasakan membuat protes masih banyak dilakukan. Kini, dampak yang terasa kembali terlihat dari para nelayan di wilayah Ujung Genteng, Sukabumi.

Di Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, hampir semua nelayan memilih tidak melaut lantaran mahalnya biaya bahan bakar. Di lain sisi, keputusan tidak melaut juga disebabkan kondisi beberapa jenis ikan yang sedang langka.

Asep Jeka selaku Ketua Rukun nelayan Ujung Gentengmengatakan, dari total 740 perahu fiber dan 64 perahu diesel milik nelayan, sekitar 70 persen memilih libur melaut.

"Selain BBM naik, ikan juga susah dicari dan jarak tempuh cukup jauh serta langka," ujarnya, Kamis (8/9/2022), mengutip Sukabumiupdate.com.

Akibatnya, terlihat jika sebagian besar perahu nampak bersandar di bibir pantai. Terlihat beberapa nelayan yang menggunakan waktu libur untuk memperbaiki perahu dan peralatan tangkap.

"Libur sejak harga BBM naik, sudah hampir tiga hari. Bahkan yang di lautan seperti perairan Cianjur dan Tegalbuleud juga pulang," tambah Asep.

Lebih lanjut, Asep menyebut jika nelayan Ujunggenteng biasanya membawa 200 liter bahan bakar untuk waktu sepekan di laut, dengan jarak terjauh ke perairan Cianjur.

"Harapan kami kepada pemerintah agar ada solusi terbaik, saat nelayan libur, bisa meringankan beban mereka," ungkapnya.

Baca Juga: Heboh Mobil Angkut BBM Pakai Jeriken di Sukabumi, Ini Tanggapan Pertamina

Load More