Sukabumi.suara.com - Ada lima jenis penipuan digital yang hingga saat ini cukup banyak dialami oleh masyarakat. Lima penipuan yang dimaksud terdiri dari penipuan berkedok hadiah, pinjaman digital illegal, pengiriman tautan yang berisi malware atau virus, penipuan berkedok krisis keluarga, dan Investasi illegal.
Belakangan, di media sosial juga sempat ramai mengenai modus penipuan digital baru yang cukup banyak menelan korban. Yakni Ketika orang tak dikenal, mengaku sebagai kurir yang ingin mengantarkan paket dan meminta korban memerika nomor resi dengan membuka sebuah dokumen terlampir.
Ternyata, file yang dimaksud berisi malware yang kemudian bisa meretas data di perangkat korban, dan menguras rekening dari aplikasi mobile banking yang ter-install di perangkat sama.
Melihat hal tersebut, Maulana Viliano MM, Deputi Manager Digital Marketing PT. BCA membahas kondisi tersebut pada kesempatan bertajuk ”Ragam Modus Baru penipuan Digital”, yang diselenggarakan oleh forum Kaskus Networks, pada Sabtu (17/12/2022).
Aktivitas tersebut bertujuan untuk meliterasi masyarakat dari isu hoaks, utamanya soal penipuan finansial yang kini marak di ranah daring/online, utamanya di media sosial, chatsApps (WA, SMS, telegram, dll).
Maulana selaku perwakilan dari pihak perbankan menyebut bahwa banyak modus penipuan keuangan mengatasnamakan BCA, sehingga jika nasabah kurang waspada, maka akan terjebak di modus penipuan tersebut.
Bukan hanya itu, salah satu yang saat ini tengah marak adalah isu hoaks soal pengumuman kenaikan tarif transfer, dan meminta data-data penting nasabah. Biasanya, modus ini disebarkan melalui platform chatApps (WhasApp/telegram), juga pesan singkat (SMS).
Dalam kesempatan yang sama, narasumber lain yakni Reza Marwansyah, selaku Praktisi Data & AI menjelaskan lazimnya para penipu digital menggunakan metode social engineering sehingga mampu meyakinkan calon korbannya. Jika tak awas, maka ada potensi korban terjebak.
‘’Kata kunci gunakan yang aman, dan jangan pernah bagikan ke orang lain. Selain itu pelajari juga opsi keamanan lainnya, seperti sidik jadi, pengenalan wajah, dll,” pesan Reza.
Baca Juga: Namanya Digunakan untuk Penipuan, Baim Wong Buat Laporan ke Polisi
Masyarakat juga diimbau untuk tidak menggunakan menggunakan password/kata kunci yang sama pada semua akun digital atau media sosial, dan jangan memberikan kode one time password (OTP) secara sembarangan.
Hal tersebut disampaikan oleh Aribowo Sasmito, Spesialis Cek Fakta Mafindo yang juga hadir dalam kesempatan sama.
“Jangan bagikan kode OTP untuk aktivasi tertentu, termasuk kepada pihak Bank,” ingatnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi