/
Jum'at, 21 Juli 2023 | 13:14 WIB
India stop ekspor beras (pexels.com/ANIl KUMAR)

India dikenal sebagai salah satu produsen beras terbesar yang menghasilkan sekitar 136 juta metrik ton beras sepanjang 2022 menurut laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).

Sebagai produsen beras terbesar, India menyumbang kurang lebih 40 persen ekspor beras secara global.

Namun, sejak Kamis (20/7/2023), pemerintah India menerapkan larangan ekspor beras non-basmati setelah harga beras mengalami kenaikan 3 persen dalam kurun waktu sebulan.

Hal tersebut lantaran gagal panen di beberapa sentra produksi beras, seperti Haryana dan Punjab. Sehingga para petani harus mengulang penanaman padi.

Untuk memastikan ketersediaan beras putih non-basmati yang cukup, serta untuk menahan kenaikan harga di pasar dalam negeri, maka pemerintah India mengubah kebijakan ekspor," ujar Kementerian Pertanian India dalam rilis resmi, dikutip sukabumi.suara.com dari Reuters, Jumat (21/7/2023).

Larangan ekspor ini juga merujuk pada kepekaan Perdana Menteri, Narendra Modi terhadap isu inflasi pangan yang terjadi menjelang pemilu tahun depan.

Tak hanya beras, pemerintah India juga melarang ekspor gandum dan gula akibat hasil panen tebu mengalami penurunan.

Seperti diketahui, harga beras saat ini sudah mencapai level tertinggi dalam kurun waktu 11 tahun.

Sementara beras adalah bahan makanan pokok yang dibutuhkan lebih dari 3 miliar orang. Kemudian, 90 persen beras diproduksi di Asia.

Baca Juga: Membangun Menu Makanan Sehat untuk Diet Harian Anda

Maka, kebijakan larangan ekspor ini akan berdampak pada kebutuhan pangan dunia.

Ada banyak negara yang terpengaruh dari kebijakan India, salah satunya adalah di wilayah Afrika.

Pasalnya beberapa negara di Afrika adalah pembeli utama beras India, seperti Nepal, Benin, Senegal, Pantai Gading, dan Bangladesh.

Untuk menutupi kekurangan pangan, beberapa negara produsen beras lainnya seperti Thailand dan Vietnam pun tak cukup persediaan untuk memenuhi kebutuhan global.

Load More