/
Selasa, 20 Desember 2022 | 15:47 WIB
Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. (Suara.com)

Suara Sumatera - Perilaku mantan Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo mendapat sorotan penceramah Ustad Sadat Latif. Terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua Nofriansyah Hutabarat (brigadir J) disebut sosok polisi yang kurang bersyukur.

Ustad mengungkapkan harusnya setiap polisi bersyukur serta memanfaatkan profesi agar bisa masuk ke surga Allah.

Ustad mulanya mengungkapkan seluruh polisi awalnya berwatak baik, karena mereka yang lolos melalui tes terbaik. Namun setelah menikah, malah istrinya yang mempengaruhi gaya hidupnya. "Setelah menikah, baru kemudian istri membanding-bandingkan dengan penghasilan yang bukan polisi," katanya.

Dia kembali mengingatkan jika polisi dengan gaya hidup yang baik cenderung akan diingat dan dipuji. Malah, polisi dengan pangkat tinggi Dengan bergaya hidup mewah, hingga menjadi bahan pergunjingan.

"Polisi yang tidak memanfaatkan profesi sangat merugi. Menjadi polisi, hendaknya memudahkan masuk ke surga," sambung ia."Masya Allah,

Ustad pun kembali menganologikan polisi yang kurang bersyukur. Belum lama ini, ia menyebut polisi dengan pangkat tinggi, bintang dua, tapi tangan diborgol.

"Itu jenderal pangkat tinggi, bintang dua, tapi tangan diborgol," ujarnya.

Ustad Sadat Latif (sumber:)

Polisi demikian, sambung ustad Sadat menyebabkan ialah contoh polisi yang tidak bersyukur. "Sangat bodoh polisi jika tidak memetik pelajaran dari jenderal pangkat bintang dua tapi tangan selalu diborgol," sambung Ustad.

Diketahui Ferdy Sambo ialah terdakwa pembunuhan berencana. Selain Ferdy Sambo, sang istri Putri Candrawathi juga menjadi terdakwa, bersama tiga terdakwa lainnya.

Baca Juga: Marah dan Jutek ke Pelanggan di Karen's Diner Bikin Fuji Capek, Apakah Emosi Segitu Melelahkan?

Kekinia kasus Ferdy Sambo Cs masih menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Load More