/
Rabu, 01 Maret 2023 | 20:44 WIB
jalan lintas di jambi (instagram)

Suara Sumatera - Kemacetan jalan di Provinsi Jambi hingga mencapai 22 jam mengakibatkan peristiwa yang merugikan. Disebutkan jika penumpang ambulans di jalan tersebut meninggal dunia, bahkan ikan-ikan yang diangkut juga mati di tengah jalan.

Jalan sepanjang 15 kilometer tersebut sudah dipadati mobil sejak pukul 10.00 WIB, Selasa (28/2/2023), namu sampai keesokkan harinya pada pukul 08.00 WIB (1/3/2023) kemacetan belum terurai.

Salah satu sopir mengeluhkan jika mereka turun tangan sendiri mengatur, sampai malam-malam belum juga ada petugas. Para sopir begadang semalaman di jalanan tersebut.

Sopir lainnya, Aden mengungkapkan jika kemacetan terjadi karena sudah tidak lagi bergerak. Dia pun mengaku mengalami banyak kerugian.

"Ada juga yang bawa ikan, mati di jalan. Kami lihat ko," akunya.

"Dari sore kemarin, kami ini sudah terjebak kemacetan. Kalau sudah begini ya bisanya cuma pasrah dan sabar," kata Setiawan.

Dia mengaku sudah berkali-kali terjebak macet karena ada belasan ribu batubara yang bergerak serentak pada malam hari, untuk mengangkut batubara dari tambang menuju pelabuhan Talang Duku, Kabupaten Muarojambi.

Titik kemacetan terjadi di perbatasan Kabupaten Sarolangun menuju Batanghari lalu dari Karmeo menuju Simpang Tembesi dengan titik terparah Simpang Tembesi dan Sridadi.

Dengan aturan ini, semua angkutan batu bara keluar dalam waktu bersamaan, tentu ini yang menjadi sumber kemacetan.

Baca Juga: Siswa di NTT Masuk Jam 5 Pagi, Ini Dampak Kurang Tidur bagi Kesehatan Tubuh

Load More