- Tokoh nasional dan akademisi menghadiri Konferensi Republik di Yogyakarta pada Sabtu, 30 Mei 2026 untuk membahas masa depan bangsa.
- Andi Widjajanto menyoroti adanya regresi demokrasi melalui pelemahan hukum prosedural yang memicu kekhawatiran serius bagi stabilitas negara saat ini.
- Kesamaan kekhawatiran pasar global dan masyarakat sipil terhadap kebijakan ekonomi sentralistis menjadi peluang unik untuk menyelamatkan demokrasi Indonesia.
Suara.com - Sejumlah tokoh nasional dan akademisi berkumpul dalam Konferensi Republik yang digelar di Gadjah Mada University Club, Yogyakarta, Sabtu (30/5/2026).
Pertemuan besar ini menyoroti arah masa depan bangsa serta mencari solusi dari berbagai tantangan yang tengah dihadapi Indonesia.
Penasihat Senior LAB 45, Andi Widjajanto, yang hadir sebagai salah satu pembicara utama, memaparkan dinamika politik Indonesia sejak era Reformasi 1999 hingga situasi terkini di tahun 2026.
Ia menilai Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan berat berupa regresi atau kemunduran demokrasi yang terjadi lewat pelemahan hukum secara prosedural.
Mantan Gubernur Lemhannas tersebut, sempat berkelakar alasan di balik pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi pelaksanaan konferensi ini, ketimbang menggelarnya di ibu kota Jakarta.
"Kenapa sih acaranya di Jogja, bukan di Jakarta? Ya jawaban saya, 'karena Jakarta lagi mikir MSCI dengan IHSG.' Di Jogja kami bisa mikir Republik," kata Andi.
Lebih lanjut, Andi menjelaskan adanya fenomena unik di mana narasi kritis dari kelompok masyarakat sipil kini justru sejalan dengan respons yang ditunjukkan oleh pasar keuangan global terhadap situasi di dalam negeri.
Menurutnya, pasar global memberikan sinyal koreksi karena adanya kekhawatiran terhadap perubahan arah kebijakan ekonomi Indonesia.
Jika tata kelola ekonomi bergeser ke arah yang terlalu terpusat, hal tersebut berisiko memicu respons negatif dari para pelaku pasar internasional.
Baca Juga: IHSG Loyo, Investor Asing Kabur Massal Rp53 Triliun dari Bursa Saham
"Masyarakat sipil berharap MSCI galak mengoreksi Indonesia, karena koreksi MSCI, fusi, S&P tentang Indonesia adalah koreksi-koreksi tentang ekonomi yang akan diubah menjadi ekonomi yang sentralistis, menjadi ekonomi komando," ungkapnya.
Situasi ini dinilai memicu kekhawatiran global yang berujung pada potensi penarikan modal asing secara besar-besaran dari Indonesia.
Namun di sisi lain, kesamaan keresahan antara pasar global dan masyarakat sipil ini dianggap sebagai momentum yang jarang terjadi.
"Lalu pasar dunia mengatakan, 'Kalau itu yang terjadi di Indonesia, kami enggak mau.' Mereka pergi, capital outflow. Pada saat ini jarang terjadi bahwa bahasa pasar global kepentingannya narasinya mirip-mirip dengan narasi masyarakat sipil. Itu celah yang unik, peluang unik yang harus kita manfaatkan," jelasnya.
Andi menaruh harapan besar pada forum ini agar mampu menghasilkan pemikiran konkret demi menyelamatkan demokrasi Indonesia.
Ia berharap atmosfer Yogyakarta dapat memberikan ruang berpikir yang lebih jernih dan berfokus pada kepentingan negara dalam jangka panjang.
"Semoga kita tidak salah memilih Jogja sebagai tempat, karena Jakarta masih mikir harga saham, sementara Jogja kita bisa mikirin Republik," tandasnya.
Berita Terkait
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
IHSG Ambles 8,35% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 1.190 Triliun
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Airlangga Bantah IHSG Jeblok Gegara Pemerintah Bentuk BUMN Ekspor PT DSI
-
Mengapa Pasar Khawatir pada Danantara Sumber Daya Indonesia
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Pemerintah Siapkan Insentif ETF Emas, Bursa Mineral, Hingga Demutualisasi
-
Jumlah Saham HSC Membengkak Jadi 51 Emiten Pasca Pengesahan Aturan Baru BEI
-
Rombak Aturan Pasar Modal, OJK Target Demutualisasi Tuntas September 2026
-
Saham HSC Dilarang Masuk LQ45, Puluhan Emiten Jumbo Kena Dampak!
-
Analis Sebut IHSG Seharusnya Jauh Lebih Tinggi, Ini Alasannya
-
Purbaya Minta Investor Beli Saham dan Jual Dolar, Klaim Ekonomi RI Mulai Diakui Internasional
-
Purbaya Girang S&P Pertahankan Rating Indonesia: Bukan Indonesia Cemas tapi Indonesia Emas
-
Inflasi Juli 2026 Naik ke 3,34%, Tiket Pesawat hingga Harga Beras Jadi Pemicu
-
Amman Mineral Bidik Produksi 16 Ton Emas dan 162.000 Ton Tembaga di 2026
-
Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM