Suara Sumatera - Isu lokal pride jadi gunjingan Timnas Indonesia. Namun, banyak juga netizen yang justru membandingkan kemampuan Shin Tae-yong dengan pelatih lokal.
Ya, konsep lokal pride dikaitkan dengan pelatih lokal seperti Indra Sjafri dan Bima Sakti. Sejatinya, kedua pelatih itu tidak anti naturalisasi. Hal itu terlihat dari kesempatan pemain naturalisasi di daftar susunan pemain sang pelatih.
Isu lokal pride kembali menjadi perbincangan usai Timnas Indonesia U-24 asuhan Indra Sjafri gagal meraih kemenangan kontra Korea Utara di Asian Games.
Kekalahan tim asuhan Indra Sjafri dinilai sebagai bentuk kegagalan lokal pride. Netizen pun meragukan konsep lokal pride untuk menaikan level sepak bola Tanah Air.
"Sudah tahu kan kualitas lokal prett (lokal pride) kayak gimana?," tulis akun @aaiinul dalam kolom komentar.
Netizen juga mendesak Shin Tae-yong untuk ambil alih Timnas Indonesia U-17 yang akan menghadapi Piala Dunia U-17.
"Ganti Coach STY Timnas U-17 sebelum terlambat," lanjutnya.
Diketahui, Timnas Indonesia U-17 saat ini dipegang dan dilatih oleh Bima Sakti.
"Beda level kalo coach lokal khusus buat di Asean saja, untuk Asia mending kasih STY saja, cuma bikin malu," tulis akun @fahriardiansyah.
"Kaya gitu masih percaya sama lokal preet? (lokal pride), passing gak bisa cuma longball sama crossing," ungkap akun @your_favorite_boy.
Berita Terkait
-
Publik Desak Shin Tae-yong Dikontrak Seumur Hidup Latih Timnas Indonesia Sampai Pro
-
Rumor Shin Tae-yong Incar Calon Pemain Naturalisasi Seharga 40 Miliar, Pernah Jebol Gawang AS Roma hingga Inter Milan
-
Kalah dari Taiwan, Publik Bandingkan Kualitas Shin Tae-yong Dan Indra Sjafri: Beda Kelas
-
Kontrak Bakal Habis, Shin Tae-yong Tak Ingin Tinggalkan Indonesia Hanya Karena Ini
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Nasib Ratusan Siswa SMA di Sumsel Terancam, Ombudsman Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB
-
BI Sumsel Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Digital Lewat Gemilang Palembang Raya x DKG 2026
-
AFC Ajax Boyong Marc-Andre ter Stegen, Maarten Paes Dibuang?
-
Duka Mendalam Klub Juara Liga Champions untuk Korban Gempa Venezuela
-
Mengapa Dokumen WDP Jadi WTP Dicari KPK? Fakta Baru dari Penggeledahan BPK Sumsel
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Sore di Pantai, Berburu Produk Lokal hingga Menikmati Musik di WKND Market PIK2
-
Sudah Bayar Rp128 Juta, Rumah Tak Kunjung Dibangun, Konsumen Lapor Polda Sumsel
-
Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026