Suara Sumatera - Pascameletusnya Gerakan 30 September 1965 atau Gestapu, kondisi politik Indonesia berlangsung tegang.
Gelombang aksi mahasiswa menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) bergema di Jakarta. TNI Angkatan Darat (AD) pun mendukung gerakan mahasiswa ini.
AD dikabarkan mulai mengawasi gerak-gerak sejumlah menteri yang dianggap sebagai pro PKI. Sampai-sampai AD mengerahkan pasukannya mengepung Istana Negara.
Akhir Februari 1966, Kepala Staf Kostrad Kemal Idris mengadakan pertemuan dengan Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo. Kemal meminta Sarwo mengerahkan pasukannya di sekitar Istana.
Pasukan RPKAD yang ditempatkan di sekitar Istana itu menggunakan pakaian Infanteri tanpa tanda pengenal.
Menurut Kemal dikutip dari buku "Bertarung Dalam Revolusi", tujuan penempatan pasukan itu untuk mengawasi gerak-gerik Wakil Perdana Menteri I Subandrio.
Di mata para perwira TNI AD, Subandrio adalah tokoh PKI yang dekat Soekarno. Karena itu TNI AD memutuskan menangkap Subandrio.
Sementara menurut Sarwo Edhie, kehadiran pasukannya di sekitar Istana untuk mengawasi pasukan yang menjaga Istana.
Sarwo Edhie mengaku khawatir ada penembakan demonstran lagi seperti yang dialami Arif Rahman Hakim.
Baca Juga: Kenakan Jaket Hijau dan Peci Hitam saat Pimpin Rapat Bappilu, Sandiaga Beri Arahan ke Jajaran PPP
Sementara TNI AD saat itu merasakan tuntutan mahasiswa sebagai kebenaran. Namun sebagai prajurit, TNI AD tidak bisa ikut berdemo.
Untuk itulah kata Sarwo dalam buku berjudul "Kebenaran di Atas Jalan Tuhan", ia menerjunkan pasukannya ke sekitar Istana untuk mengawal aksi demo mahasiswa.
Pasukan RPKAD tanpa pengenal itu diperintah mengawai pasukan Istana agar tidak seenaknya menembaki demonstran.
Pasukan RPKAD di sekitar Istana diperintah hanya jalan-jalan di sekitar Istana. Mereka tidak boleh terlalu dekat agar tidak memancing insiden.
Senjata yang dibawa tidak diacungkan ke atas melainkan di hadapkan ke bawah.
Pangdam Jaya Amir Machmud ternyata tidak suka dengan kehadiran pasukan liar itu. Pada 9 Maret 1966, Kemal Idris bersama beberapa perwira memanggil Amir Machmud.
“Saya tidak setuju dengan penempatan pasukan tanpa inisial mengepung Istana. Saya tahu itu RPKAD. Kalau Bung Karno bertanya, bagaimana saya harus menjawab,” kata Amir.
“Amir, jangan takut, kalau saya jadi presiden, setiap detik kamu bisa datang,” kelakar Kemal.
Kemal sempat meninggalkan ruangan rapat untuk menemui stafnya.
Sekembalinya ke ruangan bersama Umar Wirahadikusumah, Kemal kaget ternyata perwira lain setuju dengan penarikan pasukan liar itu.
“Kamu harus menarik semua pasukan yang ditempatkan di sekeliling Istana,” kata Umar.
Kemal kaget. “Kenapa begitu?”
“Itu kehendak Amir,” jawab Umar.
“Tidak bisa,” tegas Kemal. Sebagai pimpinan, Kemal tak ingin kehilangan muka di hadapan anak buahnya jika merubah keputusan begitu saja.
Umar marah mendengar penolakan Kemal. “Kamu jangan jadi avontuir. Saya akan lapor Pak Harto. Kamu atau saya yang keluar,” ancam Umar.
“Silakan,” kata Kemal.
Begitu suasana agak mereda, Kemal mengatakan, “Umar, kalau something goes wrong, saya yang digantung. Bukan Kamu! Dengan izin saya, kamu bisa bilang he is insubordinate,”
“Oke,” jawab Umar.
Keesokan harinya kabinet 100 menteri bersidang. Pasukan liar itu mengelilingi Istana mengawasi rapat kabinet.
Kehadiran pasukan liar ini diketahui Komandan TJakrabirawa, Kolonel Sabur. Sabur melaporkan hal ini Bung Karno.
“Ada pasukan tidak dikenal mengelilingi Istana,” kata Sabur ke Soekarno.
Mengetahui hal itu, Presiden Soekarno ketakutan akan diserbu. Bung Karno lari ke belakang Istana yang sudah menunggu helikopter.
Subandrio dan Chaerul Saleh juga berlari menyusul Bung Karno. Saking terburu-burunya, sebelah sepatu Subandrio sampai copot dan tidak dihiraukannya.
Bung Karno, Subandrio, dan Chaerul Saleh terbang ke Istana Bogor. Pimpinan rapat diambil alih Dr Leimena.
Berita Terkait
-
Anak Jendral Ahmad Yani Ungkap Detik-Detik Ayahnya Ditembak Saat G30S PKI, Deddy Corbuzier Sampai Syok Dengar Ceritanya
-
Dukung Gerakan Mahasiswa Anti PKI, Pesan Suharto ke Kas Kostrad: Jagalah Anak-anak Muda Ini Jangan Sampai Jadi Korban
-
Sukarno Menolak Suharto Jadi KSAD, Lebih Pilih Ahmad Yani karena Alasan Ini
-
6 Film Bertema G30S PKI, Terbaru Kupu Kupu Kertas yang Dibintangi Amanda Manopo
-
Pernah Dijadikan Markas, Lubang Buaya Banyuwangi Saksi Bisu Kekejaman PKI
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
Terkini
-
Dijaga Ketat, Acara Tedak Siten Andrew Anak Erika Carlina Bernuansa Putih
-
DJP Tebar Insentif, Denda Telat Lapor SPT Tahunan 2025 Dihapuskan Hingga 30 April
-
Penumpang Kereta di Sumsel Naik 15 Persen, Tembus 296 Ribu, Ini Penyebabnya
-
Wanita Viral Pengejek Outfit Fauzan Muncul, Akui Salah dan Minta Maaf
-
Motorola Edge 70 Fusion Bersiap ke Indonesia, Bakal Tantang POCO X8 Pro
-
Perkuat Produksi Jagung Nasional, BULOG Dorong Panen dan Tanam Serentak di Blora
-
Tayang 2 April, ENHYPEN Hingga V BTS Isi Soundtrack XO, Kitty Season 3
-
Innova Venturer Ringsek Tak Berbentuk Dihantam KRL di Bogor, Sopir Raib Misterius Usai Tabrakan
-
Dominasi Mobil Jepang Runtuh Dampak Serbuan Kendaraan Listrik Tiongkok di Australia
-
Akhir Pekan Tanpa Sinyal! Review Digital Detox di Kepulauan Seribu, Tanpa HP Tapi Bikin Ketagihan