SuaraSumedang.id- Infeksi cacar monyet pada anak-anak dikabarkan bisa lebih parah. Hal tersebut diungkapkan setelah 4 anak, dan 1 remaja laki-laki usia 15 tahun di AS terinfeksi cacar monyet.
Ahli sudah mengungkapkan hal-hal yang harus diketahui orangtua mengenai cacar monyet pada anak-anak.
Secara umum, jumlah kasus cacar monyet cenderung lebih sedikit dibandingkan epidemi virus lainnya.
Akan tetapi, para ahli mengingatkan, anak-anak di bawah usia 8 tahun berisiko tinggi mengalami gejala parah akibat cacar monyet.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), cacar monyet ini memiliki tingkat kematian 3-6 persen.
Bahkan, dua kematian akibat wabah monkeypox sudah dilaporkan terjadi di Spanyol.
Seperti dilansir dari Suara.com, Sabtu, 6 Agustus 2022, Profesor Emeritus dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, Jimmy Whitworth mengatakan, semua orang melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi bisa tertular virus cacar monyet.
Wabah cacar monyet ini bisa menyebar melalui kontak antara kulit yang dekat atau melalui permukaan sekunder, seperti pakaian, tempat tidur, atau handuk.
Penyebaran cacar monyet tersebut berbeda-beda di negara-negara Barat dibandingkan dengan Afrika.
Baca Juga: Amanda Manopo Tutupi Wajah Pria Pakai Stiker 'I Love You', Punya Pacar Baru?
Sebagian besar kasus cacar monyet di Eropa, AS dan Kanada menyebar melalui kontak dekat, seperti hubungan seks.
Laki-laki gay dan biseksual disebut merupakan kelompok yang berisiko menyebarkan virus cacar monyet tersebut.
"Infeksi pada anak-anak relatif lebih umum di negara-negara Afrika, di mana biasanya didapat melalui kontak dengan satwa liar," kata ahli ilmu klinis di Liverpool School of Tropical Medicine, dr. Hugh Adler, dikutip dari The Sun.
Menurut WHO, kasus infeksi cacar monyet yang parah justru lebih berisiko dialami anak kecil.
CDC sudah mengatakan anak-anak di bawah usia 8 tahun berisiko mengembangkan reaksi yang lebih parah terhadap cacar monyet.
Anak-anak kecil dengan eksim dan kondisi kulit lainnya, serta anak dengan kondisi immuno compromising juga lebih berisiko terkena penyakit parah.
Berita Terkait
-
Bejat, Iming-imingi Uang 5 Ribu Rupiah Kakek 71 Tahun di Deli Serdang Tega Cabuli Balita di Atas Becak
-
Tanpa Meninggalkan Panggilan Khas Aceh, Ini Makna Nama Anak Ria Ricis dan Teuku Ryan
-
4 Langkah Berlaku Adil pada Anak, Anti Pilih Kasih!
-
Ria Ricis Perlihatkan Wajah dan Beberkan Nama Anak: Semoga Jadi Penghafal Quran
-
7 Momen Lamaran Anak Konglomerat, Valencia Tanoesoedibjo Dilamar Kevin Sanjaya di Stadion Kebanggan Jakarta
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Dikritik Perang Lawan Iran, Donald Trump Murka ke Kanselir Jerman: Dia Gak Tahu Apa-apa
-
Top Skor Feyenoord Ayase Ueda Jadi Rebutan Klub Premier League
-
Apa Itu Kereta Aling-Aling? Mendadak Ramai gegara Kecelakaan di Stasiun Bekasi
-
Ketergantungan Energi Fosil Bebani APBN, Transisi Energi Bisa Jadi Solusi?
-
Belajar Tenang ala Buddhis di Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3
-
UPT PPA Yogyakarta Beri Pendampingan Psikologis Anak dan Orang Tua Korban Little Aresha
-
5 Moisturizer Paling Sering Direkomendasikan Dermatolog, Andalan untuk Skin Barrier Sehat
-
Raja Charles Sindir Trump di Gedung Putih, Candaan soal Bahasa Prancis Bikin Ruangan Pecah
-
Bakal Hadiri May Day 2026 di Monas, Prabowo Subianto Siapkan 'Kejutan' untuk Buruh
-
Yayasan Puteri Indonesia Cabut Gelar Jeni Rahmadial Fitri Imbas Kasus Medis Ilegal