Suara.com - Ketergantungan Indonesia pada energi fosil kembali menunjukkan risikonya di tengah lonjakan harga minyak global. Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz pada April 2026 mendorong harga minyak Brent melonjak hingga 180 dolar AS per barel, memicu tekanan besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Data International Energy Agency (IEA) yang dikutip Institute for Essential Services Reform (IESR) mencatat lonjakan tersebut menjadi peringatan serius bagi Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga langsung menekan keseimbangan fiskal nasional.
Kenaikan harga minyak dunia berdampak signifikan terhadap kesehatan keuangan negara. Setiap kenaikan 1 dolar AS pada harga minyak mentah Indonesia (ICP), beban defisit APBN diperkirakan bertambah hingga Rp6,8 triliun.
Kondisi ini menimbulkan dilema dalam pengelolaan anggaran, terutama terkait kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM). CEO IESR, Fabby Tumiwa, menyebut penyesuaian harga BBM menjadi opsi yang sulit dihindari jika tren harga minyak tinggi terus berlanjut.
“Jika rata-rata ICP bertahan di US$ 95–100 hingga akhir tahun, dampaknya pada defisit APBN bisa mencapai Rp170–204 triliun. Implikasinya, defisit APBN akan naik di atas 3 persen,” ujar Fabby dalam forum “Meningkatkan Ketahanan Energi di Tengah Bara Timur Tengah.”
Situasi ini membuka kemungkinan pemerintah harus menambah utang baru jika tetap menahan kenaikan harga BBM.
Hingga kini, harga BBM seperti Pertamax dan Pertamax Green masih belum mengalami penyesuaian, meski secara keekonomian seharusnya naik. Kebijakan ini berpotensi tidak sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014.
Di tengah tekanan tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah transisi energi bisa menjadi solusi?
IESR menilai, tanpa peralihan ke energi terbarukan, tekanan terhadap APBN akan terus berulang setiap kali harga minyak global bergejolak. Ketergantungan pada energi fosil dinilai menjadi akar persoalan dalam ketahanan energi nasional.
Baca Juga: Beda Nasib! Malaysia Turunkan Pajak saat Harga Diesel Melambung, RI Malah Sebaliknya?
“Ketergantungan pada energi fosil merupakan isu terbesar dalam ketahanan energi dari sisi fiskal. Oleh karena itu, solusinya adalah melakukan substitusi ke energi non-fosil sebagai langkah real untuk menurunkan biaya produksi,” kata Fabby.
Langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain mempercepat elektrifikasi sektor transportasi untuk mengurangi impor BBM. Selain itu, reformasi subsidi energi juga dinilai penting agar lebih tepat sasaran.
Ekonom dan peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai skema subsidi saat ini masih belum efisien karena berbasis pada produk, bukan penerima manfaat.
“Seharusnya subsidi itu ditargetkan kepada penerima manfaat, bukan pada produknya. Hal inilah yang menyebabkan subsidi BBM masih sangat besar hingga saat ini,” ujarnya.
Dengan tekanan harga minyak yang terus berulang, transisi energi kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan opsi strategis untuk mengurangi beban fiskal dan memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Dikritik Perang Lawan Iran, Donald Trump Murka ke Kanselir Jerman: Dia Gak Tahu Apa-apa
-
Raja Charles Sindir Trump di Gedung Putih, Candaan soal Bahasa Prancis Bikin Ruangan Pecah
-
Bakal Hadiri May Day 2026 di Monas, Prabowo Subianto Siapkan 'Kejutan' untuk Buruh
-
Lasarus PDIP: Pintu Kereta Api Jadi Akar Masalah, Harus Diurus Pemerintah Pusat
-
Analis Bongkar Misi Reshuffle Prabowo Hapus Bayang-bayang Jokowi dan Jadikan Dudung 'The New Luhut'
-
Polisi Gandeng KNKT Usut Kecelakaan Maut KRL Bekasi: Human Error atau Gagal Sistem?
-
Vietnam Sampaikan Duka atas Kecelakaan KRL di Bekasi, Presiden To Lam Kirim Pesan ke Prabowo
-
Pemprov DKI Jakarta Percepat Mitigasi Perlintasan Sebidang Pasca Tragedi Bekasi
-
Berkas Belum Rampung, KPK Perpanjang 30 Hari Masa Penahanan Fadia Arafiq
-
Babak Baru Teror Air Keras Andrie Yunus: 8 Saksi Siap Bongkar Aksi 4 Anggota BAIS TNI, Siapa Saja?