SuaraSumedang.id - Tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J alias Yosua Hutabarat telah menjalani tes pendeteksi kebohongan atau lie detector.
Diketahui, Bharada E, Bripka RR, Kuat Ma`ruf, Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi telah menjalani tes tersebut.
Lalu bagaimana sebenarnya cara kerja poligraf atau lie detector tersebut?
Sebelumnya melalui tayangan di Youtube Polri TV dijelaskan, poligraf atau lie detector merupakan alat untuk menguji kejujuran seseorang yang ditandai melalui reaksi tubuh.
Artinya, kejujuran seseorang dapat dinilai dengan reaksi yang dimunculkan saat menjalani tes tersebut.
Psycho physiological decepticon detection alias pendeteksi kebohongan seseorang melalui gejala psikis yang membangkitkan bentuk reaksi fisiologis atau reaksi tubuh.
Tim Asosiasi Poligraf Indonesia, Agung Prasetya menerangkan, reaksi yang dimunculkan oleh tubuh manusia dapat berupa ragam bentuk.
Diketahui, reaksi tersebut dapat berupa detak jantung, napas, kelenjar keringat, asam lambung, pupil mata dan otak.
Reaksinya bisa jantung berdebar kencang, napas berat, keluar keringat, asam lambung naik, pupil membesar, dan ketegangan di area otak.
Baca Juga: Bjorka Retas Kasus Pembunuh Munir, Nama Muchdi PR Diduga sebagai Dalang
Meski begitu, teknik poligraf yang digunakan Puslabfor Bareskrim Polri hanya membatasi pada tiga aspek saja yakni, sensor jantung, kelenjar keringat di ujung jari, dan pernapasan dada dan perut.
Lebih lanjut, kata dia, poligraf milik Puslabfor Bareskrim Polri merupakan buatan Kanada dan telah diakui Asosiasi Poligraf Amerika Serikat.
“Ini memiliki tingkat akurasi 93 persen. Dan telah memiliki standar ISO,” kata Agung Prasetya. Dilansir dari denpasar.suara.com, Minggu (11/9/2022).
Di lain sisi, Agung juga menerangkan terkait dengan cara kerja dan pemakaian lie detector yang digunakan polri dalam memeriksa kasus pembunuhan Brigadir J.
Tahap pertama, pemeriksa akan mewawancarai terperiksa terlebih dahulu untuk memastikan subjek secara jasmani dan rohani, membangun hubungan untuk menyamakan bahasa dan empati, mengetahui latar belakang sosial terperiksa, menjelaskan prinsip kerja alat.
Lebih lanjut, pemeriksa mempelajari terperiksa dan bahasa tubuh terperiksa, menyamakan kedudukan kasus, dan mempersiapkan pertanyaan dalam tes,
Tahan Kedua, pemeriksa akan menanyakan kesediaan terperiksa untuk dipasangi alat poligraf sebelum pemeriksaan poligraf dimulai.
Tahap Ketiga, Pemeriksan bisa berlangsung dalam 3-6 jam. Hasil dari poligraf berupa grafik akan dituangan ke dalam form dan dilakukan analisis. Hasil uji kebohongan ini dijadikan sebagai pendapat ahli yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) untuk dibawa ke persidangan.
“Ini lah salah satu metode scientific crime investigation yang dilakukan Polri untuk mengusut kasus penembakan Birgadir J secara transparan dan profesional,” katanya.
Begitulah cara kerja dan pemakaian lie detector atau tes pendeteksi kebohongan yang digunakan oleh Polri terlebih dalam mengungkap kasus penembakan yang melibatkan mantan Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo dan juga beberapa ajudannya.
Berita Terkait
-
Bripka RR Ungkap Kronologi Kuat Ma'ruf dan Putri Candrawathi Saat di Magelang
-
Pengacara Brigadir J Nilai Lie Detector Tak Mempan Bagi Ferdy Sambo: Sangat Mahir dan Terlatih Berbohong
-
Ferdy Sambo Cs Lewati Lie Detector, Hasilnya Polri Belum Diungkap ke Publik
-
Polri Tak Kunjung Ungkap Hasil Lie Detector Ferdy Sambo, Kriminolog Beri Komentar Menohok: Kemungkinan Tidak Jujur!
-
Rekam Jejak Brigjen Benny Ali, Telah Bebas dari Patsus
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dadah-dadah Prabowo dengan Latar Asap Kebakaran Kalimantan, Publik: What Next Mr Presiden
-
Mauro Zijlstra Terdepak dari Skuad Persija, Arema FC Jadi Kesempatan Kedua
-
Cek Fakta: Bahlil Sebut Baterai Nikel di Mobil Listrik Lebih Paten Dibanding LFP, Benarkah?
-
Status Waspada! Gunung Karangetang Terus Muntahkan Lava Sejauh 1.000 Meter
-
Dari Aceh ke Flores, Safrizal ZA Soroti Pentingnya Respons Cepat di Lokasi Bencana
-
3 Bedak Mengandung Iron Oxide untuk Menangkal Flek Hitam Wajah
-
5 Serum Kombinasi Peptide dan Retinol untuk Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
-
Prabowo ke Lokasi Karhutla Kubu Raya, Lihat Api dari Dekat Tanpa Masker Begini Arahannya
-
Review Bartender Glass of God: Mengobati Luka Jiwa Lewat Segelas Koktail
-
Sejumlah Kelompok Mahasiswa Tak Ikut Rencana Demo AMPB di Jakarta