SuaraSumedang.Id - Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mempunyai sebuah tugu yang berdiri kokoh di tengah alun-alun Kota Sumedang.
Diresmikan tanggal 25 April 1922, Lingga, demikian nama tugu tersebut. Merujuk kepada asal kata, lingga yang berarti kejantanan, kesuburan dan kekokohan seorang pria.
Tugu Lingga dibangun bukan oleh pemeritahan Sumedang waktu itu. Melainkan oleh pemerintahan Belanda.
Ketika Lingga diresmikan, yang meresmikannya bukan orang sembarangan, tetapi Gubernur Jendral Mr. D.Fock.
Peresmiannya pun dihadiri Residen Priangan Eyken, Bupati Sumedang waktu itu Raden Tumenggung Kusumadilaga (Dalem Bintang), dan para Bupati se-Priangan.
Bahkan, peresmian tersebut ditandai juga dengan penghormatan tambahan dari Belanda, yakdi dengan menerbangkan eskadron kapal terbang militer, terbang berkeliling di atas Kota Sumedang.
Untuk siapa Pemerintahan Belanda membangun Tugu Lingga dan mengapa?
Jawabnya, seperti sudah ketahui bersama, Belanda membangun Tugu Lingga tiada lain untuk menghormati Pangeran Aria Suria Atmaja yang wafat di Mekah tanggal 1 Juni 1921, ketika sedang menjalankan ibadah haji bersama istri dan saudaranya --yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Mekah.
Ihwal mengapa Belanda memberikan penghormatan yang megah kepada Pangeran Mekah dengan membangun Lingga, tentu karena Pangeran Mekah dinilai mempunyai jasa yang luar biasa kepada Sumedang dan Belanda.
Pangeran Mekah juga dinilai Belanda merupakan pemimpin yang adil, ikhlas dan sempurna sebagai pemimpin.
Dikutip dari beberapa sumber, ketika memimpin Sumedang (1882-1919), Pangeran Aria Suria Atmaja, berhasil mengembangkan pertanian, pendidikan, peternakan, perikanan, pengairan dan kehutan.
Berdirinya Unwim di Tanjungsari, di antaranya, merupaka wujud keberhasilan Pangeran Mekah dalam bidang pendidikan.
Unwin (Universitas Winaya Mukti) yang semula bernama APT (Akademi Pertanian Tanjungsari) berasal dari Sakola Tani yang didirikan Pangeran Mekah pada tahun 1913.
Pangeran Mekah juga dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi. Menurut catatan, Pangeran Mekah kerap mewakafkan tanah milik pribadi untuk kepentingan masyarakat.
Konon, ketika Indramayu dilanda paceklik berkepanjangan tahun 1897, Pangeran Mekah senjaga membeli tanah di Sampora (Buah Dua) untuk digunakan warga Indramayu yang berdatangan ke Sumedang, karena ingin bebas dari paceklik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bisakah Plester Hidrokolloid Hansaplast Atasi Bekas Jerawat di Wajah?
-
Persediaan Beras di Sabang-Simeulue Cukup
-
Selat Hormuz Sudah Dibuka, Kok Harga BBM Belum Turun? Ini Penjelasan Ekonom
-
Cari Eyeliner Bagus? Ini 5 Pilihan yang Awet dan Dipuji Pengguna
-
The East Palace Rilis Trailer Resmi, Nam Joo Hyuk Hadapi Kutukan Istana
-
Sinopsis Madness Next Door, Drama Horor Jepang Dibintangi Rino Katase
-
Membedah Logika Perbedaan Panas Eropa vs Indonesia Lewat Kacamata Geografi
-
PNM Borong GCG Awards 2026, Layani 23,3 Juta Perempuan Prasejahtera hingga Mei
-
1.184 Gempa Guncang Sulawesi Utara Sepanjang Mei
-
Puan Tegaskan PDIP Bukan Partai Abu-abu! Senyum Saan Mustopa dan Cucun Jadi Soroton