News / Internasional
Kamis, 02 April 2026 | 11:04 WIB
Ilustrasi rudal Iran. [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Garda Revolusi Iran mengklaim telah menembak jatuh sekitar 140 drone AS-Israel dari berbagai tipe sejak peperangan pecah pada 28 Februari lalu.
  • Pesawat nirawak jenis MQ-9 menjadi aset udara terbaru milik koalisi musuh yang berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara di atas langit kota Khomein.
  • Konflik berdarah ini meletus di tengah proses negosiasi, memicu aksi saling serang yang menewaskan Ali Khamenei dan menargetkan pangkalan AS di Timur Tengah.

Suara.com - Para pengamat Konflik Timur Tengah kembali dikejutkan dengan klaim keberhasilan militer Teheran yang sukses merontokkan ratusan Drone AS-Israel sejak perang berkecamuk.

Pihak Garda Revolusi Iran secara resmi mengumumkan bahwa armada pertahanan udara mereka baru saja sukses menghancurkan pesawat nirawak Jenis MQ-9 di atas langit kota Khomein.

Aksi unjuk gigi ini menjadi bentuk perlawanan sengit pasca tewasnya mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei akibat rentetan serangan koalisi musuh sejak akhir Februari lalu.

Kabar hancurnya pesawat nirawak canggih tersebut pertama kali dilaporkan secara luas oleh Kantor Berita Mahasiswa Iran atau ISNA.

Media lokal tersebut mempublikasikan pernyataan tertulis yang dikeluarkan langsung oleh Markas Besar Provinsi Tengah dari korps pertahanan setempat.

"Sebuah UAV jenis MQ-9 yang terdeteksi di langit Khomein telah dihancurkan," demikian pernyataan Garda Revolusi Iran dikutip dari Haberler.

Pernyataan tersebut mengonfirmasi kejatuhan armada udara tanpa awak itu di wilayah yang memang sedang berada di bawah gempuran intensif pihak musuh.

Pihak militer Iran sebelumnya juga telah merilis data rekapitulasi terkait penghancuran aset udara lawan pada tanggal 30 Maret lalu.

Mereka mengklaim bahwa sekitar 140 pesawat tak berawak dari berbagai tipe telah berhasil ditembak jatuh sejak perang meletus secara resmi pada 28 Februari 2026.

Baca Juga: Paus Leo XIV: Yesus Tolak Doa Orang Pemicu Perang

Perang terbuka ini sendiri pecah secara mengejutkan tepat di saat proses negosiasi diplomasi sedang berlangsung hangat antara pemerintah Teheran dan Washington.

Pasukan koalisi Amerika Serikat dan Israel menginisiasi konflik dengan melancarkan rentetan serangan udara mematikan ke dalam teritori pertahanan Iran.

Sebagai bentuk balasan, pihak Teheran merespons cepat dengan melancarkan serangan udara yang menargetkan sejumlah titik vital di negara-negara regional sekitar.

Sasaran balasan mematikan tersebut mencakup wilayah Israel serta pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat yang bercokol di Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain.

Tragedi peperangan besar ini tercatat telah memakan korban jiwa yang sangat besar di pihak Teheran, termasuk tewasnya mantan pemimpin tertinggi Iran beserta sejumlah pejabat tinggi kenegaraan lainnya.

Load More