SUARASUMEDANG – Perayaan Idul Adha memang sangat dinanti – nantikan oleh berbagai umat muslim, berbondong – bonding sapi siap untuk dikurbankan lalu dibagikan kepada masyarakat.
Lantas apakah sapi yang sudah mati sebelumnya bisa dikonsumsi layaknya seperti biasa? Kejadian di daerah Gunungkidul, Yogyakarta jawabannya. Sekitar 87 warga positif terkena antraks dan 3 diantaranya meninggal dunia.
Lalu apa yang menyebabkan mereka terkena antraks? Mungkin tradisi brandu inilah yang diduga – duga menjadi kunci permasalahan ini. Brandu merupakan tradisi yang berkembang di kawasan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tradisi ini lahir atas solidaritas sosial.
Dalam tradisi tersebut, warga atau masyarakat satu desa melakukan patungan agar bisa membeli sapi dari ternak warga yang tiba – tiba mati atau sakit dengan tujuan si peternak itu tidak terlalu merugi. Padahal membeli seperti itu sama saja menyebarkan penyakit.
Diketahui, antraks merupakan spora bakteri yang dapat bertahan hingga ratusan tahun di dalam tanah. Tidak hanya menular kepada hewan ternak seperti sapi dan kambing, tetapi juga bisa menular ke manusia hingga berakibat kematian.
Fakta lainnya adalah kasus antraks ini bukanlah kasus pertama sebelumnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah pernah terjadi lima tahun terakhir dengan kasus paling tinggi tercatat di tahun 2019 yang mencapai 31 kasus, lalu 2022 mencapai 23 kasus, 2020 terlapor hanya 3 saja dan di tahun 2023 sebanyak 9 kasus dengan 3 kematian.
Jenis antraks yang dijangkiti oleh korban umumnya antraks yang menyerang kulit. Jarang ditemukan kasus antraks yang menyerang pernafasan dan pencernaan.
Karena keprihatinan tindakan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi tersebut, Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan ini yang terakhir tradisi brandu dilakukan seterusnya jika ada hewan mati mendadak, jangan di brandu.
Selain itu juga akan ada sosialisasi terkait antraks kepada masyarakat luas khususnya yang ada di DIY oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) dan juga melakukan upaya vaksinasi antraks yang saat ini mencapai 2.600 dosis itupun akan diupayakan agar dosisnya ditambah sebagai salah satu bentuk pencegahan penularan penyakit antraks agar tidak terlalu merebak.
Baca Juga: Sama-Sama Pegawai, Kenapa PNS Tidak Kena Pajak Natura?
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Ulasan Novel The Good Neighbor, Sisi Gelap Tetangga yang Baik Hati
-
Kualitas Udara Jakarta Terburuk Ketiga di Dunia, Polusi PM2.5 Capai Level Tidak Sehat
-
Soroti Krisis Kepercayaan, Yoyok Sukawi Desak PSSI Transparan Soal Isu Penundaan Kongres
-
Hasil Piala AFF: Kecerdikan John Herdman Antar Indonesia Libas Timor Leste
-
Karhutla Mengganas di Kalbar, Asap Tebal Selimuti Ketapang
-
Hanya 20 Unit Terios Special Edition dan New Sigra Resmi Meluncur di GIIAS 2026
-
JETOUR Berikan Garansi Mesin Tanpa Batas Kilometer di GIIAS 2026
-
Toyota Pamerkan Land Cruiser Hybrid dan GAZOO Racing Terbaru di GIIAS 2026
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!