TANTRUM - Untuk mendapatkan kenyamanan diarea mulutnya, sejak lahir bayi selalu menghisap susu ibunya secara alami. Itu dilakukan bayi, untuk memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu makan.
Menurut psikolog anak yang merupakan Co - Founder Children Cafe Nuri Indira Dewi, tujuan makan melalui air susu ibu (ASI) sampai kenyang, bayi merasa aman dan nyaman serta terlindungi dalam pelukan.
Atas dasar itu kata Nuri, bayi dapat saja mempersepsikan kegiatan menghisap adalah kenyamanan.
"Dalam teori psikoseksual yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, usia 0-1,5 tahun termasuk dalam tahap oral. Dimana kesenangan dan kenyamanan bayi berpusat di area mulut," ujar Nuri ditulis Bandung, Rabu, 25 Mei 2022.
Teori itu kata Nuri, meyakini bahwa stimulasi oral dapat mengarah ke fiksasi oral di masa depan yaitu stimulasi yang kurang atau justru berlebih. Hal itu dapat menyebabkan seseorang tidak dapat maju ke tahap selanjutnya.
Akibatnya tutur Nuri, muncul perilaku-perilaku pengganti seperti menghisap jempol atau menggigiti kuku. Perilaku-perilaku ini pada umumnya muncul di bawah kondisi stres atau cemas.
"Penjelasan teori itu, mungkin kita mengira menghisap jempol adalah akibat dari kurang atau berlebihnya stimulasi oral. Namun ada pendapat lain yang merujuk pada kenyataan bahwa banyak bayi yang sudah melakukannya sejak dalam kandungan," kata Nuri.
Tetapi lanjut Nuri, setelah lahir kebiasaan ini muncul kembali saat mereka sudah tidak menghisap botol atau puting susu ibunya.
Nuri mengutip dari seorang psikolog yang juga penulis buku, Susan Heitler, yang menyebutkan melihat kebiasaan tersebut sebagai adiksi atau ketergantungan. Maka penangannya juga memerlukan pendekatan khusus.
Jika kebiasaan ini berhenti sebelum anak berusia 5 tahun, dimana gigi permanennya belum tumbuh, maka kondisi yang disebut malocclusion ini cenderung dapat diperbaiki dengan sendirinya.
"Menurut penelitian 40 persen anak masih menghisap jempol di usia 1 tahun, 20 persen di usia 5 tahun dan 5 persen di usia 10 tahun. Sebuah penelitian jangka panjang lain menunjukkan total 50 persen anak berhenti sendiri di usia 5 tahun, total 75 persen anak di usia 8 tahun dan total 90 persen di usia 10 tahun. Hingga dapat disimpulkan bahwa anak kita memerlukan bantuan bila ia masih menghisap jempol di usia 5 tahun ke atas," jelas Nuri.
Nuri menambahkan apabila kebiasaan ini telah bersifat adiktif, maka anak akan merasa tidak nyaman saat dirinya tidak menghisap jempolnya.
Itu dapat diamati dari penolakannya saat diminta berhenti saat menangis, marah dan menolak dengan keras terhadap sesuatu hal yang tidak disetujuinya.
Menghisap jempol pada anak bisa dilihat dari pola kebiasaannya. Terdapat anak yang menghisap jempol saat hendak tidur, saat merasa cemas, takut atau sedih, menonton televisi, dan ada pula yang menghisap jempol saat tidak melakukan apapun.
"Dengan menemukan polanya, kita akan lebih mudah menemukan penyebabnya. Menghilangkan kebiasaan ini bisa dengan cara membuat tangannya sibuk dengan berbagai kegiatan," terang Nuri.
Tag
Berita Terkait
-
Bayi Terapung yang Menjadi Wali: Menyelami Kisah Sunan Giri Lewat Saga dari Samudra
-
3 Parfum Aroma Powdery Lembut ala Bayi yang Tahan Lama dari Brand Lokal
-
Derita Bayi di Gaza Sudah Terancam Hidup Prematur Sebelum Lahir di Dunia, Bagaimana Bisa?
-
Kesadaran Pasangan Muda soal Bayi Tabung Meningkat, Morula IVF Perkuat Layanan Berstandar Global
-
Terlanjur Sayang, Pasutri Singapura Baru Sadar Anak Angkatnya Diduga Korban Perdagangan Bayi dari RI
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Maut di Gudang Kayu Ngawi: Nestapa Suami Sembunyikan Istri dari Amukan Anak Kandung
-
Prabowo Minta TNI Beri Sesuatu yang Spesial untuk Masyarakat di Bulan Kemerdekaan
-
Amerika Serikat Bakal Punya Senator Muslim Pertama, Siapa?
-
Krisis Empati Nakes pada Pasien BPJS: Akibat 'Burnout' atau Bobroknya Sistem Kesehatan?
-
Pindah Agensi Baru, The Boyz Siap Lanjutkan Aktivitas Grup dengan 9 Member
-
FIFA ASEAN Cup 2026: Hadiah Rp15 M Menanti, Timnas Indonesia Siap Turunkan Skuat Terbaik
-
IHSG Berakhir Terkoreksi Tapi Masih di Level 6.300, DSSA Melesat Lagi
-
Pengering Higienis Panasonic CARE+ Edition Bantu Kurangi Bakteri & Jaga Pakaian Tetap Bersih
-
Disorot Dedi Mulyadi, Ini 7 Efek Mengerikan Tramadol yang Bisa Mengancam Nyawa
-
Sengketa Tanah PN Kota Bogor Memanas, Tergugat Beberkan Bukti Jual Beli 1992-1994