TANTRUM - Nyeri punggung bagian bawah merupakan masalah kesehatan yang mengganggu aktivitas. Banyak faktor yang dapat menjadi penyebabnya, diantaranya ketegangan otot, osteoporosis (keropos tulang), tumor, infeksi dan Herniasi Nukleus Pulposus (HNP).
Namun, salah satu yang banyak dirasakan masyarakat saat ini adalah penyakit terkahir yaitu HNP alias saraf terjepit.
Menurut dokter spesialis ortopedi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Ahmad Ramdan, nyeri pinggang merupakan keluhan yang sering didapatkan pada pasien yang berobat ke rumah sakit dipicu oleh saraf terjepit.
Jumlah penderita saraf terjepit ini semakin meningkat seiring dengan adanya pergeseran pola penyakit.
"Dulu sebagian besar penyakit yang dialami oleh masyarakat Indonesia adalah penyakit infeksi, sekarang sudah bergeser ke penyakit degeneratif. Dulu HNP banyak diderita oleh orang tua, namun saat ini banyak anak muda (usia produktif) yang sudah terdiagnosa HNP," kata Ahmad ditulis, Bandung, Senin, 30 Mei 2022.
Pergeseran pasien saraf terjepit ke usia lebih muda disebabkan oleh gaya hidup dan pola kerja tidak baik. Pada usia muda, saraf terjepit diakibatkan oleh pola kerja yang tidak tepat.
Diantaranya duduk terlalu lama, berdiri terlalu lama, naik turun tangga terlalu sering, tubuh mengalami getaran kuat terlalu lama (seperti operator mesin, driver, dan lain lain) atau bisa jadi karena jatuh dalam posisi duduk.
Pada usia lanjut sebut Ahmad, HNP atau dikenal dengan sebutan saraf kejepit disebabkan oleh penuaan.
"Seiring bertambahnya usia, bantalan sendi akan kehilangan kadar air. Kondisi ini mengakibatkan bantalan sendi menjadi rapuh, pecah-pecah, bergeser dan tidak fleksibel," sebut Ahmad.
Saraf terjepit merupakan penonjolan atau pergeseran bantalan tulang belakang yang menekan saraf tulang belakang.
Gejala yang sering dirasakan oleh penderita saraf terjepit adalah sakit di punggung bagian bawah atau pada bahu yang menjalar ke bagian lengan, kesemutan, lemah atau kaku otot pada salah satu tangan, dan rasa panas seperti terbakar.
"Jika dibiarkan, akan mengakibatkan gangguan sistem gerak bahkan kelumpuhan. Jika merasakan gejala tersebut sebaiknya di periksakan ke dokter, jangan dulu dipijat oleh orang yang tidak ahli dibidangnya, karena pijatan yang salah dapat memperburuk keadaan," jelas Ahmad.
Saraf terjepit dapat terdiagnosa dengan pemeriksaan CT Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Proses pengobatannya bertahap, dimulai dengan pencegahan, selanjutnya pemberian obat-obatan.
Apabila obat-obatan tidak berpengaruh, ditambah dengan melakukan fisioterapi, intervensi nyeri dan terakhir operasi.
Beberapa hal yang mendasari tindakan operasi adalah jika semua modalitas terapi tidak terasa dampaknya atau gejala-gejalanya tambah berat.
Berita Terkait
-
Rilis Final Trailer Film "Dan Bandung", Kisah Perjuangan Cinta Yang Siap Mengaduk Emosi Penonton
-
Chelsea vs AC Milan di GBK, Erick Thohir Nantikan Duel Man United Kontra Persija, PSG Lawan Persib
-
Bobotoh Bikin Terharu, Mariano Peralta Siap Beri Segalanya untuk Persib
-
Festival Kuliner, Dunia Fantasi, dan Pesona Ahn Hyo Seop di Tengah Kota Bandung
-
Jadwal Piala Presiden Hari Ini: Persib dan Arema Jalani Laga Penentu
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Kemarau Ekstrem Bikin Warga Krisis Air, Negara Tak Boleh Diam
-
Dirjen Bea dan Cukai Bongkar Peredaran 20 Ribu Botol Miras Legal, Selamatkan Uang Negara Rp 2 M
-
6 Fakta di Balik Munculnya Spanduk 'Tangkap Jokowi' di Lebak Banten
-
Digerebek Lagi, Dua Kilang Minyak Ilegal di Muba Terbongkar, Pemiliknya Masih Buron
-
Dorong Ciwidey Naik Kelas, Legislator NasDem Ini Ingin Warga Manfaatkan Jabatannya di Komisi IV DPR
-
Walk Out dari Paripurna, Pengamat Nilai Keliru Jika Sebut Bobby Nasution Arogan
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123
-
Geger Spanduk 'Tangkap Jokowi' Bertebaran di Lebak Jelang Kunjungan ke Banten
-
Karhutla Sumsel Terus Meluas, Mengapa Muba dan Ogan Ilir Jadi Titik Terparah?
-
Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan